Prodi Ekonomi Pembangunan FEB UNRI Laksanakan Giat Praktisi Mengajar Bidang Ekonomi Berkelanjutan

Pekanbaru, Detak Indonesia-- Program Studi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Riau menggelar acara Praktisi Mengajar dalam rangkaian Program Kompetisi Kampus Merdeka (PKKM). Acara ini mengusung topik "Agroindustri Hilir Berkelanjutan Kelapa Sawit", menghadirkan praktisi berpengalaman di bidang ekonomi berkelanjutan dan industri sawit untuk berbagi wawasan dan pengalaman praktis kepada para mahasiswa. 

Kegiatan ini dihadiri oleh Ketua Jurusan (Kajur) Ilmu Ekonomi yakni  Dr Yusni Maulida SE MSi, Sekretaris Jurusan Mardiana SE MSi, Koordinator Program Studi S1 Ekonomi Pembangunan Ando Fahda Aulia SE ME MBA (IB) PhD, Dr Any Widayatsari SE MEc, Dr Eka Armas Pailis SE MM, Dr Yanti Mayasari Ginting SSos dan M Hamid ME.

Acara Praktisi Mengajar ini dipandu oleh Masayu Adara, seorang mahasiswi jurusan Ilmu Ekonomi. Untuk kelancaran acara, dimulai dengan doa bersama yang dipimpin oleh Muhammad Yahya, mahasiswa dari jurusan yang sama. Seluruh rangkaian kegiatan berlangsung dengan lancar.

Ketua Jurusan Ilmu Ekonomi FEB UNRI, Dr Yusni Maulida SE MSi, menyampaikan sambutannya tentang pentingnya memahami dan mendalami ekonomi berkelanjutan. Ia berharap para mahasiswa serius dalam memperhatikan materi yang disampaikan, sehingga pengetahuan dari para praktisi berpengalaman di bidangnya dapat dipahami dengan baik.

Dalam acara ini, praktisi menekankan pentingnya pengembangan sektor hilir sawit yang berkelanjutan, mulai dari pemprosesan bahan mentah hingga pengembangan produk turunan yang bernilai tinggi. Sawit, sebagai komoditas unggulan Indonesia, memegang peran penting dalam perekonomian nasional, terutama di Riau yang merupakan salah satu produsen terbesar. Namun, tantangan yang dihadapi dalam menjaga keberlanjutan lingkungan dan sosial di sepanjang rantai produksi terus menjadi perhatian utama.

 

Dalam kegiatan ini Praktisi juga menyampaikan sejarah Sawit. Sawit (Elaeis guineensis) sebenarnya bukan tanaman asli Indonesia, melainkan berasal dari Afrika Barat dan Afrika Tengah. Di Indonesia, sejarah kelapa sawit dimulai pada 1848 ketika Dr D T Pryce membawa empat biji sawit, dua berasal dari Bourbon, Mauritius, dan dua lainnya dari Hortus Botanicus di Amsterdam, Belanda. Karena tanaman ini tumbuh subur dan terbukti dapat berkembang dengan baik di berbagai daerah, ksawit mulai dibudidayakan secara komersial di Sumatera sejak tahun 1910.

Pembicara menjelaskan bahwa pengembangan agroindustri hilir sawit yang berkelanjutan tidak hanya akan meningkatkan nilai tambah produk, tetapi juga dapat mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan (SDGs). Hal ini mencakup penekanan pada upaya mengurangi dampak lingkungan, efisiensi energi, serta inklusi sosial melalui keterlibatan masyarakat lokal dalam rantai pasok.

Darlin Simanullang (SDS2 Operation Head – Apical Dumai) mengungkapkan bahwa penerapan teknologi dan inovasi dalam pengolahan produk turunan sawit, seperti bioenergi dan oleokimia, menjadi peluang besar dalam memajukan sektor ini.

"Indonesia harus beralih dari ekspor bahan mentah menuju hilirisasi yang lebih bernilai tambah, dengan tetap memperhatikan aspek keberlanjutan lingkungan dan kesejahteraan petani," ujarnya.

Selain itu, mahasiswa juga diajak untuk berpikir kritis mengenai potensi dan tantangan dalam industri ini. Mereka dituntut untuk tidak hanya menguasai teori ekonomi pembangunan, tetapi juga memahami aplikasi nyata dalam industri yang terus berkembang seperti sawit.

 

Acara ini diharapkan mampu memperluas wawasan mahasiswa dan mendorong mereka untuk terlibat aktif dalam pembangunan ekonomi yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan di masa depan. 

Dengan adanya Praktisi Mengajar ini, Program Studi Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Riau semakin memperkuat perannya dalam menghasilkan lulusan yang siap menghadapi tantangan global dalam konteks ekonomi berkelanjutan, khususnya di sektor sawit yang menjadi salah satu tulang punggung perekonomian Indonesia. (*/rls)


Baca Juga