Lubuk Kembang Bungo, Detak Indonesia--Walau Tim Satgas Penertiban Kawasan Hutan (PKH) baru-baru ini tegas menyegel aktivitas kebun sawit di dalam kawasan Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) di kawasan Desa Toro Jaya, Gondai, Lubuk Kembang Bungo, Air Hitam dan sekitarnya, namun tandan buah segar (TBS) sawit dari dalam kawasan TNTN itu tetap lancar diangkut keluar oleh puluhan truk, Minggu dan Senin (29-30 Juni 2025).
Pantauan wartawan dan Tim Investigasi DPP TOPAN RI Wilayah Sumbagut, puluhan truk Colt Diesel masih aman-aman dan santai-santai saja mengangkut TBS sawit baik dari dalam zona inti TNTN, kawasan HPT, HP, dan HPK TNTN. Ribuan kawasan inti, HPT, HP HPK sudah berganti dari hutan alam menjadi hamparan perkebunan sawit ilegal, membangun, menanam sawit secara nonprosedural, tanpa izin resmi Pemerintah.
Tim investigasi sempat bertemu dan wawancara dengan petinggi Desa Airhitam, Lubuk Kembang Bungo, dan sejumlah masyarakat. Bahwa kata warga adalah perusahaan yang duluan membabat hutan di kawasan TNTN. Ada perusahaan Hak Pengusahaan Hutan (HPH) dan perusahaan Hutan Tanaman Industri (HTI) sebelumnya. Perusahaan inilah yang pertama membuat jalan balak, dan sekarang eks jalan kayu balak itu dimanfaatkan warga membuka kebun sawit.

"Kesalnya masyarakat kepada oknum aparat Pak, mereka tangkap satu atau dua alat berat ekskavator, tapi kemudian mereka 86 kan Pak. Maksudnya tangkap lepas. Itu cerita tangkap lepas itu sudah tidak menjadi rahasia umum lagi bagi kami warga daerah ini. Saat menangkap dibawa minta didampingi Bhabinkamtibmas atau Babinsa desa di sini, eh aparat itu Pak kemudian lepaskan lagi, maunya Satgas PKH ini tangkap lah oknum aparat kehutanan yang tangkap lepas itu. Makanya kami kesal akhirnya kami juga buka hutan dikit-dikit tanam sawit. Cukong besar bisa buka luas kebun sawit, kok kami dilarang yang kecil-kecil ini hanya untuk bisa makan. Bukan untuk kaya seperti cukong-cukong itu," kata Ron inisial salah seorang warga yang mendampingi tim investigasi melacak mana kebun perusahaan dalam kawasan TNTN dan kebun para cukong, pemilik peron dan sebagainya.


Jalan lintas gajah atau koridor gajah di kawasan HTI tanaman eucaliptus PT Riau Andalan Pulp and Paper (PT RAPP) Riau, yang tak berhutan alam lagi, Senin (29/6/2025). (azf)
Di dalam TNTN ada disebutkan lebih kurang 1.000 hektare kebun akasia perusahaan yang sudah besar-besar batangnya, tapi takut ditebang pohon kayu akasia HTInya karena terlanjur ditanam di dalam kawasan TNTN. Kayu alamnya sudah berganti jadi kayu akasia. Sebagian hutan akasia inilah ditebang warga lalu ditanam sawit oleh warga, tapi dalam kawasan TNTN.
Ada juga kebun sawit 380 hektare usia 15 tahun milik mantan Bupati Pelalawan di Desa Air Hitam di dalam konsesi perusahaan besar kelapa sawit dibatasi dibangun parit gajah besar. Entah bagaimana cerita awalnya kenapa kebun sawit mantan bupati itu bisa berada di dalam parit gajah perusahaan sawit terkenal itu. Sehingga terlindungi dari gangguan pencuri buah sawit atau ninja sawit. Sehingga masyarakat tak bisa masuk. Setelah dicek masuk kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT) Tesso Nilo. Hampir semua kawasan HPT, HP, HPK Tesso Nilo sudah berganti ditanami sawit oleh sejumlah cukong-cukong kaya, dan sebagainya. Buah sawit ya ditampung oleh peron yang ada di sekitar Desa Lubuk Kembang Bungo, Desa Air Hitam, Desa Bukit Kesuma, Desa Gondai, dan sebagainya.
Pejabat tinggi di salah satu Kantor Desa yang minta namanya jangan ditulis menyebutkan bahwa pemilik peron penampung buah sawit dari kawasan TNTN ini ada nama inisial Marb, Marp, dan Munt. Mereka ini pemilik peron besar. Ada juga Ed. Ada juga TS. Petinggi Desa di TNTN ini menyebutkan ada sekitar 60 orang Satgas PKH katanya masih berada di TNTN. Namun buah sawit dari dalam kawasan TNTN kenapa masih lancar diangkut keluar oleh puluhan truk ditampung sejumlah peron di kawasan itu. Ada juga yang dibawa keluar jalan koridor milik pabrik kertas di Pangkalankerinci Pelalawan Riau.

Hutan alam di sempadan sungai sudah gundul akibat deforestasi. (azf)
Tim investigasi keliling masuk dari Simpangkoran jalan koridor PT RAPP, terus ke Desa Gunung Sari, Basrah, Tasik Indah, Segati, Rantau Kasih, Mentulik, Kamparkiri Hilir, Langgam, penyeberangan ponton Langgam RAPP, masuk Pangkalankerinci Pelalawan. Sepanjang perjalanan jalan koridor PT RAPP lebar 12 meter itu ketemu kebun sawit di balik hamparan tanaman HTI eucaliptus yang disembunyikan di depan ditanami pohon aren, tapi di belakangnya tersembunyi ratusan bahkan ribuan hektare hamparan kebun sawit. Di pintu seng pintu masuk kebun sawit itu disemprot cat warna merah tulisan "AWAS VIRAL".


Kebun-kebun sawit tersembunyi di balik lokasi HTI di kawasan koridor PT RAPP Riau, Senin (29/6/2025). (azf)
Kebun-kebun sawit para cukong besar ini ada pondok tempat berteduh. Kebun sawit ini belum ditindak Tim Satgas PKH. Jalan koridor gajah di dalam HTI perusahaan dipasang tanda lintasan gajah. Tapi hutan alamnya di kiri-kanan jalan koridor gajah ini sudah gundul. (azf)