Pekanbaru, Detak Indonesia -- Kabut asap mulai menyelimuti wilayah Kota Pekanbaru, Riau dan sekitarnya sejak beberapa hari belakangan. Hal ini diduga disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di wilayah Tapung, Kabupaten Kampar, Riau dan angin berhembus membawa asap ke arah Kota Pekanbaru.
Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru juga mendeteksi puluhan titik panas (hotspot) yang berpotensi dari kebakatan hutan dan lahan (karhutla).
Kepala Stasiun BMKG SSK II Pekanbaru, Irwansyah Nasution menjelaskan, ada 8 Kabupaten Kota yang terdeteksi hotspot karhutla.
"Yang terbanyak itu di Kabupaten Rokan Hulu 10 titik, Dumai tiga titik, Pekanbaru satu titik, Pelalawan dua titik, Rokan Hilir empat titik, Indragiri Hilir empat, Indragiri Hulu satu dan Kabupaten Siak satu titik," kata Irwansyah, Kamis (3/7/2025).
Dia menjelaskan, titik-titik panas ini berpeluang besar menimbulkan kebakaran baik itu di hutan maupun lahan.

"Karena ini memasuki musim kemarau pasti cukup berpeluang besar (terjadi karhutla), makanya masyarakat diimbau agar waspada dan tidak melakukan pembakaran terutama di lahan kosong atau di hutan," harapnya.
Dia mengungkapkan, puncak musim kemarau pada tahun ini terjadi pada bulan Juli-Agustus 2025.
"Panas mungkin akan tinggi di bulan ini diperkirakan pertengahan Juli masuk puncaknya musim kemarau," jelasnya.
Konsentrasi partikulat atau kualitas udara di Kota Pekanbaru tergolong sedang yakni 26,9 µg/m3.
"Udaranya pagi hari ini masih baik dan tidak pada level mengkhawatirkan. Khusus kabut yang muncul di pagi hari itu adalah kumpulan awan tipis yang menyelimuti Pekanbaru beberapa hari ini. Tapi ada juga beberapa daerah yang mungkin asap. Tapi untuk daerah Pekanbaru ini yang jelas itu adalah awan tipis," jelasnya. (dan)