Panipahan, Detak Indonesia--Presiden Prabowo, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dengan jajaran Bea Cukainya (BC) diminta memperhatikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) agar dirasakan bagi para siswa di daerah 3T (terisolir, tertinggal, terluar) antara lain yang sangat memprihatinkan adalah di Kota Terapung Panipahan, Kecamatan Pasir Limau Kapas (Palika), Kabupaten Rokanhilir, Riau.
Kondisi gizi siswa Sekolah Dasar (SD), Sekolah Menengah Pertama (SMP) di kawasan lumbung hasil laut itu sangat memprihatinkan. Para murid ibarat ayam kelaparan di lumbung padi.
Para eksportir/importir seperti Oliong, Aliong, Kiong di Panipahan ini bermewah-mewah dengan fasilitas yang diberikan sebagai eksportir/importir hasil laut yang melimpah di Panipahan. Tapi sumbangannya untuk program MBG belum nampak. Mereka hanya memperkaya diri pribadi dengan rumah dan kantor mewahnya di atas laut, memiliki angkutan laut membawa hasil laut untuk ekspor ke Malaysia. Tapi perhatiannya untuk Negeri minim sekali.
Demikian disampaikan aktivis DPP TOPAN RI Wilayah Sumbagut, Rahman dalam investigasinya bersama tim awak media selama tiga hari di Kota Terapung Panipahan, sejak Jumat lalu (17/10/2025) hingga Minggu (19/10/2025).
Menurut aktivis DPP TOPAN RI Rahman, toke eksportir hasil laut itu hanya dekat dengan Bea Cukai Pembantu Panipahan, Polsek, Koramil, Kantor Karantina saja. Hasil-hasil laut berkualitas seperti udang, kepiting, Eko, kerang, Ikan Tenggiri, Ikan Kakap, Ikan Senangin, dan hasil panen laut bermutu lainnya diekspornya ke Malaysia dari Panipahan ke Port Klang Malaysia.

Staf Kantor Pembantu BC Panipahan, Dana yang ditemui di Kantornya Sabtu (18/10/2025) membenarkan Toke Oliong salah satu eksportir yang rutin membawa hasil laut Panipahan untuk ekspor ke Port Klang Malaysia. Didahului mengurus dokumen PEB (Pemberitahuan Ekspor Barang) di Kantor Pelayanan Pembantu BC Panipahan.
"Ya, Pak Oliong menggunakan angkutan laut sendiri untuk ekspor ke Port Klang Malaysia," kata Dana.
Sumbangan kecil yang diharapkan dari toke Oliong, Aliong, Kiong itu untuk program MBG Pak Presiden Prabowo kata Rahman, adalah jangan semua ikan bermutu ekspor itu mereka kirim semua ke Malaysia. Tapi tinggalkan sebagian-sumbangkan hasil laut bermutu ekspor itu untuk program MBG Presiden Prabowo di daerah 3T Kecamatan Pasir Limau Kapas ini.
Karena menurut Rahman, kondisi gizi siswa SD, SMP di kecamatan kaya hasil laut itu sangat memprihatinkan. WC kelas saja tak tersedia air untuk cebok siswa. Sehingga tinja siswa berserakan menyumbat WC. Kursi dan meja belajar tak karuan tak diurus dengan baik. Di Kota Terapung Panipahan yang kaya hasil laut untuk ekspor ini belum terdengar berjalan program MBG yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto.
Infrastruktur jalan dari Desa Suak Airhitam Hitam Kecamatan Pekaitan sampai ke Panipahan sangat buruk sekali sehingga pengangkutan hasil laut dari Panipahan diangkut ke Pekanbaru nihil karena terkendala buruknya jalan yang tak bisa dilewati kendaraan roda empat. Hasil laut Panipahan kata pekerja Agus Gulo dibawa ke Tanjungbalai Asahan, dan Medan, Sumut yang lebih dekat ketimbang ke Pekanbaru. Jadi Pekanbaru gigit jari. Panipahan masuk wilayah Riau dekat dengan Tanjungbalai Asahan dan hasil lautnya dibawa ke Sumut, bukan ke Riau.
"Ayo Pak Presiden Prabowo dan Menteri Keuangan Purbaya, instruksikan toke kaya Oliong, Aliong, Kiong di Panipahan Rohil ini perhatikan program MBG. Jangan hanya memperkaya diri pribadi saja," tegas aktivis DPP TOPAN RI Wilayah Sumbagut, Rahman.(azf)