Panipahan, Detak Indonesia--Hasil perikanan laut di lepas pantai timur Sumatera di kota terapung Panipahan Kecamatan Pasir Limau Kapas, Kabupaten Rokanhilir (Rohil) Riau menyusut menjelang Natal 25 Desember 2025 dan jelang Tahun Baru 1 Januari 2026.
Pantauan awak media ini Senin 22 Desember 2025 di Pasar Panipahan sejumlah pedagang mengatakan tangkapan nelayan menyusut menyebabkan harga hasil laut meningkat.
Seperti Ikan Senangin yang biasanya Rp 20.000 per kilogram kini naik menjadi Rp25.000 per kg. Cumi-cumi atau sotong biasanya Rp25.000 per kg kini meroket menjadi Rp32.000 perkg.
Salah seorang pedagang pemborong hasil laut dari Kota Pinang Sumatera Utara yang khusus datang dengan motor keranjangnya, Wahyudi kepada awak media ini menjelaskan tentang menyusutnya hasil tangkapan laut para nelayan Panipahan.
"Menurun hasil tangkapan nelayan Panipahan bang, kami membeli dari pedagang dan ada nelayan langsung agak mahal harganya. Saya bawa pakai motor keranjang ikan Senangin, Ikan Bawal, Cumi-cumi, udang, kepiting, dan lain-lain ke Kota Pinang Sumut. Saya jualan sendiri buka kedai di rumah di Kota Pinang, Sumut," ujar Wahyudi.

Nelayan Panipahan sedang antre bongkar hasil panen laut di bawah Pasar Terapung Panipahan, Kecamatan Pasir Limau Kapas, Rokanhilir, Riau, Senin (22/12/2025). (azf)
Sementara keterangan dari pedagang ikan, di Panipahan ini hanya terdapat ikan khusus seperti Senangin, Bawal, Udang, Kepiting, Cumi-cumi, kerang jarang ditemukan ikan serai, ikan gembung.
Kota terapung Panipahan ini terletak di pantai timur Sumatera Kabupaten Rokanhilir Riau di sebelah selatan Kabupaten Labuhan Batu, Sumut, dekat Selat Melaka merupakan daerah 3T (terisolir, terluar, terdepan). Hasil lautnya yang melimpah sulit dikirim ke Kota Pekanbaru, Riau karena jalan darat Panipahan-Pademaran mirip "jalan neraka jahanam" jalan tanahnya rusak berat berlubang-lubang susah dilewati motor. Mobil tak bisa lewat.
Dari Panipahan ke perbatasan Sumut ditempuh 15 menit. Makanya hasil laut yang melimpah dikirim ke kawasan kabupaten di Sumut dan tak sampai ke Riau daratan. Riau daratan jalan daratnya kata warga Panipahan sangat buruk menempuh waktu sampai 10 jam hasil laut sudah busuk di perjalanan baru sampai ke Pekanbaru.
Saat ini warga Panipahan khususnya nelayan kesulitan mendapatkan bantuan BBM subsidi seperti biosolar dan pertalite. BBM itu didatangkan dari Dumai melalui angkutan kapal oleh toke BBM Panipahan Abeng. Juga susah mendapatkan gas elpiji 3 kg. Untuk hasil laut ekspor, BBM dipakai oleh toke ekspor hasil laut Oliong, Kiong, dan Akiong Panipahan. Mereka ini punya kapal angkutan ikan ekspor khusus ke Malaysia dan Singapura.

SPBU Abeng khusus untuk melayani BBM nelayan di Panipahan, Rohil, Riau. (azf)
Dari berbagai pergantian Bupati di Kabupaten Rokanhilir seperti Annas Mamun, Suyatno, Aprizal Sintong, sampai Bistamam sekarang warga Panipahan sampai batas Panipahan-Pekaitan-Kubu belum menikmati jalan darat yang layak/baik. Jalan daratnya hingga kini masih seperti "jalan neraka jahanam" rusak berlubang-lubang apalagi musim hujan ini rusak parah, pemotor bisa tergelincir jatuh. Makanya hasil laut Panipahan yang melimpah tak sampai ke Kota Pekanbaru tapi lebih dekat dikirim ke Labuhan Batu, Kota Pinang, Aek Nabara, Medan. (azf)