Pekanbaru, Detak Indonesia -- Pabrik Kelapa Sawit (PKS) Sei Tapung PTPN IV Regional III terus mengoptimalkan pemanfaatan limbah hasil pengolahan kelapa sawit secara komprehensif sebagai bagian dari implementasi prinsip ekonomi sirkular dan praktik industri berkelanjutan.
Mulai dari memanfaatkan tandan kosong sebagai bahan pupuk organik untuk mendukung produktivitas perkebunan, hingga diolah menjadi sumber energi baru terbarukan yang berkontribusi terhadap upaya pengurangan emisi gas rumah kaca.
Untuk pemanfaatan tandan kosong (tankos), Pj Manajer PKS Sei Tapung, Devario Ibnurusd S, mengatakan inisiatif tersebut merupakan salah satu bentuk komitmen entitas dalam mendukung praktik budidaya perkebunan yang ramah lingkungan sekaligus mengoptimalkan nilai tambah dari limbah hasil pengolahan sawit.
Menurut dia, tankos memiliki kandungan bahan organik yang bermanfaat untuk meningkatkan kesuburan tanah, memperbaiki struktur lahan, serta membantu menjaga ketersediaan unsur hara secara alami.
“Pemanfaatan tankos sebagai pupuk organik merupakan salah satu bentuk dukungan manajemen terhadap praktik budidaya sawit yang lebih lestari dan ramah lingkungan. Selain membantu petani, langkah ini juga menjadi bagian dari upaya perusahaan mengoptimalkan seluruh produk samping agar memberikan manfaat yang lebih luas,” kata Devario.
Ia menjelaskan, selama ini PKS Sei Tapung secara rutin menyalurkan tankos kepada petani di desa-desa sekitar wilayah operasional perusahaan tanpa dipungut biaya sebagai bagian dari program tanggung jawab sosial lingkungan.
Penyaluran dilakukan berdasarkan permohonan tertulis dari kelompok maupun petani yang mengajukan kebutuhan kepada manajemen PKS dengan mempertimbangkan ketersediaan tankos di pabrik.
“Tidak ada praktik jual beli tankos kepada masyarakat. Penyaluran dilakukan secara cuma-cuma sebagai bentuk dukungan perusahaan terhadap petani dan pemanfaatan bahan organik secara berkelanjutan,” ujarnya.
Meski demikian, Devario mengungkapkan bahwa selama lebih dari satu bulan terakhir penyaluran tankos kepada masyarakat dihentikan sementara karena pemanfaatannya diprioritaskan untuk kebutuhan internal perusahaan.
“Sudah lebih dari satu bulan tidak ada penyaluran tankos ke masyarakat karena sesuai arahan manajemen, tankos dan by product lainnya seperti abu janjang saat ini difokuskan untuk mendukung kebutuhan kebun inti,” paparnya.
Kebijakan tersebut, lanjut dia, diambil untuk mengoptimalkan pemanfaatan bahan organik dalam mendukung produktivitas serta perbaikan kualitas lahan perkebunan perusahaan.
Kendati demikian, PKS Sei Tapung menegaskan komitmennya untuk terus menjalankan praktik perkebunan dan industri sawit berkelanjutan, sekaligus menjaga hubungan harmonis dengan masyarakat sekitar melalui berbagai program pemberdayaan dan pemanfaatan limbah bernilai tambah.
Sementara itu, para petani mengaku terbantu dengan inisiatif PKS Sei Tapung yang selama ini mendukung kebutuhan pupuk organik masyarakat, terutama di tengah kenaikan harga pupuk yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir.
Idang, salah seorang petani di sekitar wilayah operasional perusahaan, mengatakan program penyaluran tankos telah membantu petani menekan biaya pemupukan sekaligus meningkatkan produktivitas kebun.
“Kami sebagai petani sangat terbantu dengan inisiatif PKS Tapung. Program ini membantu kami mengurangi biaya perawatan kebun. Mudah-mudahan ke depan bisa kembali dilanjutkan setelah kebutuhan kebun inti perusahaan terpenuhi,” katanya.
Lebih lanjut, Devario menuturkan bahwa komitmen pengelolaan limbah berkelanjutan di PKS Sei Tapung tidak hanya terbatas pada pemanfaatan tankos dan produk samping padat lainnya.
Sejak 2023, PKS Sei Tapung juga telah dilengkapi dengan instalasi Pembangkit Tenaga Biogas (PTBg) Co-firing yang memanfaatkan limbah cair kelapa sawit atau Palm Oil Mill Effluent (POME) sebagai sumber energi baru terbarukan.
PTBg Co-firing Sei Tapung beroperasi menggunakan teknologi Covered Lagoon atau CIGAR (Covered In-Ground Anaerobic Reactor) untuk menangkap gas metana (NH4) yang dihasilkan dari proses pengolahan limbah cair pabrik. Fasilitas tersebut memiliki kapasitas terpasang mencapai 20.000 meter kubik atau setara 700 Nm³ biogas per jam.
Melalui teknologi tersebut, limbah yang sebelumnya berpotensi menghasilkan emisi gas rumah kaca dapat dimanfaatkan kembali menjadi sumber energi yang mendukung operasional perusahaan sekaligus berkontribusi terhadap program pemerintah dalam mewujudkan net zero emission.
“Prinsip yang kami jalankan adalah bagaimana seluruh produk samping hasil pengolahan sawit dapat dimanfaatkan secara optimal. Tankos dan abu janjang dimanfaatkan untuk mendukung kesuburan lahan, sementara limbah cair kami olah menjadi energi terbarukan melalui fasilitas biogas. Dengan demikian, manfaatnya tidak hanya dirasakan perusahaan tetapi juga lingkungan dan masyarakat,” jelasnya.
Menurut dia, pendekatan tersebut menjadi bagian dari transformasi industri sawit modern yang menempatkan aspek keberlanjutan sebagai salah satu prioritas utama dalam operasional perusahaan.
Melalui optimalisasi pemanfaatan tankos, abu janjang, hingga pengolahan limbah cair menjadi energi baru terbarukan, PKS Sei Tapung menunjukkan bahwa industri sawit modern tidak hanya berorientasi pada produksi, tetapi juga mampu menghadirkan nilai tambah bagi lingkungan, masyarakat, dan agenda pembangunan berkelanjutan nasional. (tim)