Menyedihkan, 150 Pengungsi Rohingya Mandi dan Cuci dengan Air Keruh di Pekanbaru
Pengungsi Rohingya di Pekanbaru mandi dan cuci dengan air keruh di perkemahan yang dibangun sendiri dekat Rumah Densi Imigrasi di belakang Purna MTQ Pekanbaru, Selasa petang tadi (21/5/2024). (Aznil Fajri/Detak Indonesia.co.id)
Pekanbaru, Detak Indonesia--Nasib 150 orang pengungsi Rohingya di Kota Pekanbaru, Riau cukup memprihatinkan.
Setelah digusur dari pinggir jalan di trotoar belakang Purna MTQ Pekanbaru dua pekan lalu, kini mereka pindah di dalam kawasan semak belukar yang sudah dibersihkan dekat Gedung Detensi Imigrasi Pekanbaru di belakang Purna MTQ Pekanbaru tersebut.
Sejumlah wartawan sempat menemui sejumlah pengungsi ini antara lain Mohammad Husein, Sayedullah, dan Osmat. Mohammad Husein lebih fasih bahasa Inggris dan tak bisa bahas Indonesia. Sedangkan Sayedullah fasih bahasa Indonesia, sementara Osmat yang masih gadis tak bisa berbahasa Indonesia.
Para wartawan juga menyaksikan beberapa pengungsi ini mandi dan cuci menggunakan air keruh galian sumur dangkal di lokasi kemah buatan para pengungsi.

Barak pengungsi Rohingya yang baru dekat Rumah Detensi Imigrasi Pekanbaru di belakang Purna MTQ Pekanbaru, Selasa (21/5/2024).
Kemah ini dibangun dengan konstruksi kayu dan bambu Betung, ada yang pakai panggung dan ada yang langsung di tanah. Sementara ada anak-anak mereka ada yang tidur di tikar di atas tanah. Atap dari tenda plastik dan untuk mengurangi panas atap maka ditimpa atapnya dengan daun dan semak belukar di sekitar lokasi kemah.
Kepada wartawan, Sayedullah mengatakan dua pekan ini mereka baru pindah ke lokasi baru ini dekat tahanan detensi Imigrasi Pekanbaru di belakang Purna MTQ Pekanbaru. Dua pekan ini mereka baru dikasih makan oleh IOM dari lembaga internasional yang mengurusi pengungsi.
Dari negerinya di Burma Rohingya sana mereka melarikan ini naik kapal karena gejolak di negara tersebut. Menurut keterangannya pemerintahannya Buddha, dan warga Rohingya ini dominan muslim. Sampai di Aceh mereka lanjut ke Riau melalui jalan darat naik bus.
Di lokasi kemah baru ini mereka membangun perkemahan secara mandiri untuk kaum lelaki posisi berada di depan dan wanita di belakang. Sayedullah menilai orang Pekanbaru baik-baik saat mereka buat kemah di pinggir jalan di belakang Purna MTQ Pekanbaru, ada saja warga Pekanbaru yang mengantarkan makanan dan minuman.


Pengungsi Rohingya, Sayedullah diwawancara wartawan.
Hingga mereka diusir ditertibkan dipindahkan ke lokasi baru ini masih bersyukur sudah diurus sama IOM lembaga internasional yang mengurusi pengungsi.
"Sekarang kami sudah agak bisa tenang di perkemahan baru ini, makan minum sudah diurusi oleh IOM," jelas Sayedullah kepada sejumlah wartawan.
Seperti diberitakan media sebelumnya, Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Pekanbaru, Provinsi Riau, menyatakan sekitar 191 orang etnis Rohingya yang berkeliaran di sekitar Rumah Detensi Imigrasi (Rudenim) daerah setempat datang secara ilegal dari Nangroe Aceh Darussalam.
"Kedatangan mereka tanpa koordinasi dengan Satgas Penanganan Pengungsi dari Luar Negeri (PPLN). Sedangkan yang terkoordinasi PPLN dari Aceh hingga Pekanbaru sebanyak 119 orang," jelas Kepala Badan Kesbangpol Pekanbaru Drs H Syoffaizal, Selasa lalu.


Air keruh untuk mencuci dan tungku masak pengungsi Rohingya di Pekanbaru dibuat dari tanah liat galian sumur.
Pengungsi Rohingya dari jalur resmi ini dikawal dari Provinsi Nangroe Aceh Darussalam hingga ke Pekanbaru. Pemerintah Kota Pekanbaru dan International of Migration (IOM) menyediakan tempat tinggal bagi pengungsi Rohingya ini yakni Community House.
Namun sudah penuh karena Community House hanya ada tujuh kamar untuk lajang atau belum memiliki istri atau suami. Jadi karena pengungsi yang sudah berkeluarga tak bisa digabung dengan lajang, sehingga tak tertampung.
"Memang ada, pengungsi dari etnis Rohingya yang berada di depan Rudenim atau sekitar belakang kawasan Purna MTQ. Hal ini disebabkan tak tersedianya Community House," jelasnya.
Sementara, 191 etnis Rohingya ini datang secara sporadis ke Pekanbaru. Namun begitu, pihaknya bersama Satgas PPLN tetap memikirkan 191 orang ini.
"Saat ini sudah ada sekitar 129 orang Rohingya di Rudenim. Sebenarnya tujuan utama para pengungsi Rohingya ini adalah ke Malaysia," ujarnya.

Lokasi pengungsi Rohingya sebelumnya di pinggir jalan belakang Purna MTQ Pekanbaru. Mereka buang air besar dan kecil terkadang di dalam parit.
Berdasarkan pantauan di lapangan sebelum pindah ke lokasi baru di semak-semak yang dibersihkan dekat Rudenim Imigrasi belakang Purna MTQ Pekanbaru nampak ratusan pengungsi Rohingya terlihat membuat tenda di trotoar jalan belakang Rudenim Pekanbaru. Mereka membuat tenda sederhana dengan terpal dan kain yang dihuni kaum laki-laki, perempuan, dan anak-anak. Buang air besar dan kecil di dalam parit itu.
Sekarang di lokasi perkemahan baru, anak-anak mereka sudah ada yang bermain jauh sampai mancing ikan bersama-sama di samping purna MTQ. Demikian juga ibunya menggendong anaknya terkadang jalan keluar sampai ke depan purna MTQ Jalan Sudirman Pekanbaru. (azf)