Pelajar SMP di Kampar Dikeroyok hingga Muntah Darah, Korban Trauma Berat
Ibu korban, Yulia Aswita. (ist)
Pekanbaru, Detak Indonesia -- Seorang pelajar SMP usia di bawah umur, warga Cipta Karya Ujung, Kecamatan Tambang Kabupaten Kampar, Riau, dikeroyok oleh beberapa orang remaja hingga muntah darah dan pembuluh mata luar pecah.
Peristiwa pengeroyokan itu dialami MFA (15) di Jalan Cendrawasih Ujung, Kelurahan Sidomulyo Barat, Kecamatan Tuah Madani Kota Pekanbaru, pada Minggu (8/6/2025) lalu.
Ibu korban, Yulia Aswita mengatakan, peristiwa berawal ketika putra sulungnya itu menonton sejumlah remaja yang asyik bertanding game online secara berkelompok. Beberapa saat kemudian setelah usai pertandingan korban dijemput oleh 12 remaja dengan menggunakan sepeda motor. Korban lalu dibawa ke depan sebuah SD dan dikeroyok.
"Anak saya dijemput sama 12 orang pelaku yang saat itu sedang berada di rumah temannya. Dia dipaksa naik ke motor dan dibawa ke tempat sepi. Di sana anak saya dipukul dan dikeroyok antara tiga dan empat orang. Otak pelakunya adalah D, dia memukul kepala bagian belakang. Lalu dipukul di bagian mata sebelah kanan, dada sebelah kiri oleh pelaku lain sehingga anak saya sempoyongan dan terjatuh," kata Yulia-ibu korban, Kamis (26/6/2025).
Mirisnya, aksi pengeroyokan itu direkam oleh teman-teman pelaku menggunakan handphone dengan alasan untuk dokumentasi. Menurut Yulia, akar permasalahan pengeroyokan anaknya karena para pelaku kalah bermain game online. Di sana terjadi saling ejek dan kebetulan korban berada di situ.
"Setelah dikeroyok hingga babak belur, anak saya diantar pulang oleh para pelaku dan dititipkan uang Rp40 ribu untuk berobat dengan alasan karena sudah salah orang. Saya tahu pada pagi harinya karena melihat wajah anak saya yang sudah babak belur," kata ibu korban Yulia.
Saat diantar pulang, korban sempat diancam agar tidak melaporkan kejadian sebenarnya ke orang tua apalagi ke Polisi. Saat ini, kondisi MFA sangat terpukul dan mengalami trauma berat.
"Pagi itu dia sempat muntah-muntah dan mengeluarkan darah, mata bengkak dan berdarah," ungkapnya.
Kasus ini telah dilaporkan ke Polsek Bina Widya Panam Pekanbaru pada 10 Juni 2025 lalu. Korban juga sudah menjalani visum di rumah sakit, namun hingga saat ini belum ada kejelasannya. Penyelidik di Polsek Bina Widya juga sudah melakukan upaya mediasi terhadap korban dan pelaku, namun masih belum ada titik temu.
"Masih dalam proses penyelidikan, saksi-saksi masih diambil keterangan. Kalau sudah lengkap dikabari," kata Kanit Reskrim Polsek Bina Widya, Pekanbaru Iptu Santo Morlando melalui pesan singkat, Kamis (26/6/2025). (dan)