PT RAPP Tanggapi Tudingan Warga Soal Babat Hutan Buffer Zone TNTN
Hutan alam penyangga TNTN atau buffer zone sudah berganti tanaman HTI Cassia carva RAPP, hutan alam sudah punah di Dusun Gambangan Desa Airhitam Kecamatan Ukui Kabupaten Pelalawan Riau yang dituding warga pihak RAPP yang merambah dulu dibantah pihak RAPP bahwa konsesi dan operasional PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) dijalankan sesuai perizinan resmi yang diterbitkan oleh Pemerintah Republik Indonesia. (Aznil Fajri/Detak Indonesia.co.id)
Pekanbaru, Detak Indonesia--Manajemen PT Riau Andalan Pulp and Paper (PT RAPP) di Kota Pangkalan Kerinci, Kabupaten Pelalawan Riau menanggapi tudingan warga terkait pembabatan hutan buffer zone di Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN) yang dituduhkan dilakukan oleh PT RAPP beberapa tahun lalu.
Aji Wihardandi selaku Head of Corporate Communications RAPP menegaskan Jumat 12 September 2025 bahwa pihaknya memahami adanya perhatian publik terkait pengelolaan kawasan di sekitar Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN).
"Dapat kami sampaikan bahwa konsesi dan operasional PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP) dijalankan sesuai perizinan resmi yang diterbitkan oleh Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Kehutanan dan lembaga berwenang lainnya, termasuk ketentuan mengenai kawasan penyangga (buffer zone) sebagaimana diatur dalam Keputusan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor: SK.180/Menhut-II/2013," kata Aji.

Kawasan buffer zone TNTN ditumbuhi Accasia mangium, bukan hutan alam.
Dalam keterangan singkatnya, Aji mengatakan PT RAPP berkomitmen untuk senantiasa mematuhi peraturan yang berlaku, serta terus menjaga keseimbangan antara kegiatan operasional perusahaan dengan upaya pelestarian lingkungan. Terimakasih, demikian keterangan manajemen PT RAPP.
Seperti diberitakan sebelumnya warga di sekitar kawasan TNTN menuding bukan mereka yang merambah kawasan hutan dan buffer zone TNTN. Saat warga masuk kawasan itu tidak berhutan lagi. Melainkan semak belukar bahkan sudah tertanam tanaman HTI Cassia carva milik PT RAPP yang sudah dipanen dua kali di kawasan Dusun Gambangan Desa Airhitam Kecamatan Ukui Kabupaten Pelalawan, Riau.

Buffer zone TNTN di Desa Lubuk Kembang Bungo Kecamatan Ukui, Pelalawan Riau menurut warga telah gundul hutan alamnya berganti Accasia mangium, kini jadi kawasan buffer zone pernah terbakar hebat dan ditanami kembali bibit kayu alam namun tak terawat. (azf)
Di Desa Lubuk Kembang Bungo juga menurut warga kawasan buffer zone nya sudah dibabat dan sudah ditanam tanaman HTI jenis Accasia mangium oleh PT RAPP. Sekarang kawasan ini dijadikan kawasan lindung-buffer zone yang ditumbuhi hutan HTI bukan hutan alam.
Atas informasi dari warga termasuk petinggi-pejabat di Desa Airhitam, awak media ini bertanya kepada Direktur Utama PT RAP Mulia Nauli.
Yang dipertanyakan sbb:
1. Terkait diduga penyalahgunaan lahan overlap PT RAPP di Dusun Gambangan Desa Airhitam Kecamatan Ukui Pelalawan Riau seluas lebih kurang 1.000 hektare hutan buffer zone/sabuk hijau/hutan penyangga TNTN hutan alamnya dituding warga sudah dibabat terlebih dahulu PT RAPP sudah ditanami Casia carva, sudah dua kali PT RAPP panen HTI Casia carva, sekarang lahan itu dibiarkan, diserobot warga Gambangan berganti ditanami sawit oleh masyarakat. Ada sawit milik Kasim, Jefri, dll. Ini kata warga dan kami sudah turun ke lapangan mengambil bukti dokumen di lapangan Rabu 16 Juli 2025 saat Tim Satgas PKH dan tim kami meninjau SDN 016 di Dusun Gambangan tsb.
Sementara buffer zone TNTN yang disebut warga dirambah PT RAPP di Dusun Gambangan Desa Airhitam Kecamatan Ukui Pelalawan Riau kini sudah jadi pemukiman dan kebun sawit warga. RAPP kata warga sudah dua kali panen Casia carva di sini lokasi overlap. RAPP tak berani lagi memanen Casia carva di lokasi overlap ini.
2. Lebih kurang 2.400 ha hutan HTI Akasia mangium di Lubuk Kembang Bungo di Kenayang Lubuk Kembang Bungo lahannya juga overlap dengan TNTN pernah dibuat jalan koridor lama RAPP, hutan alam buffer zone sebagai penyangga TNTN kata warga dibabat RAPP, namun 2014 diperintah Presiden Jokowi tutup jalan koridor lama itu dan dibuat jalan koridor baru tembus ke Desa Lubuk Kembang Bungo. Reboisasi dilakukan di lokasi ini sekitar 2019 karena sebelumnya terbakar hebat. Direboisasi oleh Pak Ismail sebuah perusahaan reboisasi 500 sampai 1.000 ha ditanami tanaman hutan, seperti Meranti, dll. Tapi saat kami kunjungi Rabu 16 Juli 2025, reboisasi tak terawat lagi malah tumbuh subur Accasia mangium dan ditemukan banyak tinja atau berak/kotoran gajah. Kata warga Lubuk Kembang Bungo, bahwa Buk Erna Sayuti dari WWF pernah turun ke masyarakat saat sosialisasi tahun 2004 lalu di Lubuk Kembang Bungo ini. (azf)