Panipahan Lumbung Hasil Laut Riau, 38 Km Jalan Penghubung Hancur Tak Tersentuh Pemprov Riau-Pemkab Rohil

Senin, 20 Oktober 2025 - 12:13:46 WIB

Sejauh lebih kurang 38 kilometer jalan dari Sungai Daun ke Kota Terapung Panipahan Kecamatan Pasir Limau Kapas (Palika) Kabupaten Rokanhilir, Riau rusak parah, tak tersentuh perhatian Pemprov Riau, Pemkab Rohil. Padahal Panipahan Lumbung Hasil Laut Riau. Namun hasil laut tak dinikmati Riau, namun diangkut ke Provinsi Sumatera Utara, dan ekspor ke Port Klang Malaysia. Ini akibat infrastruktur jalan rusak parah. (Aznil Fajri/Detak Indonesia.co.id)

Laporan : Aznil Fajri dan Tim dari Panipahan-Rohil-Riau

Panipahan, Detak Indonesia--Presiden Prabowo menekankan percepatan pembangunan infrastruktur untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di tingkat desa. Langkah ini sejalan dengan upaya untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional dari tingkat terbawah.

Percepatan program listrik desa:

Pada Agustus 2025, Presiden Prabowo menginstruksikan percepatan program listrik desa untuk melayani 5.700 desa dan 4.400 dusun yang belum teraliri listrik. Upaya ini bertujuan untuk menghadirkan keadilan energi hingga ke Pelosok Negeri.

Namun sayang jalan provinsi seharusnya dinikmati oleh masyarakat untuk perkembangan ekonomi rakyat merasa terganggu oleh jalan yang rusak, tim Investigasi menuju Kota Terapung Panipahan Kecamatan Pasir Limau Kapas Kabupaten Rohil-kota di atas laut penghasil ikan di sepanjang perjalanan tim melewati desa Sungai Daun Kecamatan Pasir Limau Kapas, Desa Bagan Punak Pesisir Kecamatan Bangko,  Desa Suak Air Hitam Kecamatan Pekaitan, sampai kota di atas pesisir Laut Timur Sumatera Panipahan Kabupaten Rokan Hilir (Rohil) Jumat (17/10/2025).

Menuju kota Panipahan tim investigasi tepatnya desa Jalan Kuning Jalil Kecamatan Pasir Limau Kapas (Palika) sampai ke perbatasan kota Panipahan Rohil itu jalan rusak parah tidak tersentuh pembangunan infrastruktur jalan yang layak oleh Pemprov Riau dan Pemkab Rohil yang lalai, sibuk rapat, sibuk menyambut tamu negara, dan sebagainya.

"Kami konfirmasi pada warga soal jalan, kami pernah mengusulkan jalan lintas desa kami tolong perbaiki sampai saat ini belum ada perbaikan, kasihan anak sekolah pak, kadang anak anak itu berangkat sekolah pakai motor belum sampai di sekolah jatuh ke lubang lumpur akibat jalan rusak. Parahnya musim hujan, kami tidak bisa lewat, jalan lumpur rata dengan air, tanah liat, desa kami ini desa tertinggal pak, kami minta pemerintah perhatikan lah jalan kami, apa lagi desa kami ini jalan menuju kota Panipahan," keluh warga.

 

Tim Investigasi merasakan jalan menuju Panipahan tidak pernah di perbaiki, jalan berlumpur, tanah liat, pembangunan tidak merata seperti kampung tertinggal tidak pernah tersentuh oleh pihak pemerintah.

Diketahui Panipahan adalah sebuah kelurahan di Kecamatan Pasir Limau Kapas, Kabupaten Rokan Hilir, Provinsi Riau, yang terkenal sebagai kota terapung di atas laut. Kota ini memiliki ribuan rumah yang berdiri di atas penyangga kayu, beton cor di permukaan laut, dengan jalanan sempit yang menghubungkan antar bangunan. Untuk mencapai Panipahan, pengunjung harus menggunakan perahu motor cepat (speed boat) selama sekitar 1,5 jam dari Bagansiapi-api. Biayanya Rp150.000/orang menuju Panipahan. Pada hal jalan darat pun sebenarnya bisa namun tidak pernah sama sekali pemerintah Provinsi Riau membangun jalan layak menuju Panipahan. Jalanan kini kondisi parah hanya bisa dilalui motor ban cangkul. Motor biasa dikala hujan tak bisa menembus jalan berlumpur.

Panipahan dikenal sebagai kota di atas laut yang unik, dengan rumah-rumah, kedai, dan pasar yang berdempetan di atas air bertonggak kayu dan tiang beton cor.

Warga Panipahan (narasumber) mengatakan hasil laut di espor keluar negeri ke pelabuhan Port Klang Malaysia, Singapura dan ada juga dibawa keluar Provinsi Riau yaitu Sumut (Sumatera Utara), yang terdekat Tanjungbalai Asahan yang berbatasan dengan Kabupaten Rokan Hilir Provinsi Riau. Ini diungkap warga, Sabtu (18/10/2025).

 

Lanjut lagi (Narasumber) kalau hasil tangkapan nelayan luar biasa, bermacam macam ikan yang ada di perairan pantai timur Sumatera ini, ada ikan tongkol, ikan tenggiri, ikan senangin, kakap, pokoknya ikan yang mahal pak, setelah masyarakat menangkap ikan dibawa ke toke Oliong, toke disini yang terkenal juga Aliong, toke Kiong, nanti di ekspor, dibawa ke Malaysia, atau ke Tanjungbalai Asahan jadi hampir sebagian besar tangkapan laut masyarakat di sini (Panipahan) dibawa ke luar Provinsi Riau. Kalau di bawa ke Pekanbaru ongkosnya mahal pakai speed boat dari Panipahan ke Bagansiapi-api. Jalan darat Panipahan-Sungai Daun rusak berat berlumpur hanya bisa dilewati motor ban cangkul. Sampai di Kubu-Ujung Tanjung-Pekanbaru barulah jalan bisa dilewati mobil angkutan umum. Walau sebagian jalan Kubu masih timbunan tanah.

Di tempat terpisah salah satu warga Sutrisno yang tinggal di Desa Pasir Limau Kapas Rohil mengatakan kepada media jalan menuju Panipahan sangat hancur, apa lagi musim hujan sekarang sama sekali tidak bisa dilewati, mobil tidak bisa langsung ke Panipahan kebanyakan kendaraan roda dua. Warga ini minta tolong bantu untuk dipublikasikan soal jalan rusak agar mendapat perhatian Pemprov Riau dan Pemkab Rohil memperbaiki jalan lumpur ini.

"Di Panipahan Kabupaten Rokan Hilir itu penghasil ikan, ikan-ikan tangkapan masyarakat Panipahan dijual oleh toke toke ke Sumatera Utara antara lain ke Tanjung Balai Asahan kalau dibawa ke Riau Pekanbaru belum ada jalan lintas penghubung ke Panipahan. Padahal kami warga Pasir Limau Kapas berharap jalan yang bagus, penghasilan kami terganggu pak, akibat tranportasi yang tidak bisa, kami desa yang tertinggal pak. Lihat aja sendiri sama bapak. Atau suruh orang pusat turun pak, biar mereka tau kondisi desa kami," keluh Sutrisno yang mengeluh pada wartawan.

Ketua investigasi wilayah Sumbagut Lembaga monitoring Tim Operasional Penyelamat Aset Negara Republik Indonesia DPP TOPAN RI Rahman dan tim melihat merasakan langsung kondisi jalan menuju Panipahan penghasil ikan konon salah satu terbesar penghasil ikan di Riau. Untuk menempuh Panipahan kota terapung harus berhari hari di musim hujan. Berangkat dari Bagansiapi-api lewat darat mau 1 hari satu malam dari Jembatan Pedamaran. Persoalannya jalan darat penghubung belum sampai ke Panipahan, jalannya masih tanah liat belum ada tersentuh pembangunan di desa, Desa Sungai Daun Kecamatan Pasir Limau Kapas, Desa Bagan Punak Pesisir Kecamatan Bangko, Desa Suak Air Hitam Kecamatan Pekaitan, sampai kota Panipahan Kabupaten Rokan Hilir.

 

"Kami berharap kepada pemerintah daerah baik kabupaten, Provinsi Riau dan pusat untuk memberikan perhatian dan membantu pembangunan desa yang merata, sesuai instruksi Presiden Prabowo menekankan percepatan pembangunan infrastruktur untuk mendorong pertumbuhan ekonomi di tingkat desa. Langkah ini sejalan dengan upayanya untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional dari tingkat terbawah, jangan sampai penghasilan di Riau khusus Panipahan dinikmati oleh orang luar, padahal hampir ratusan juta rupiah penghasilan perhari hasil dari penangkapan ikan di Panipahan. Seharusnya dinikmati oleh masyarakat itu sendiri. Minta Pemprov Riau segera bangun jalan, tranportasi menuju Panipahan agar hasil laut Panipahan Rohil Riau dinikmati, kemana bayar pajaknya, apa dibiarkan uang negara tak jelas begitu saja, Panipahan aset yang harus dijaga Pemprov Riau dan Pemkab Rohil dan lestarikan lumbung ikan terbesar di Provinsi Riau itu. Demikian Rahman dari DPP TOPAN RI Wilayah Sumbagut. (tim/azf)