Kerja Keras dan Doa Orang Tua Anak Petani Sederhana Berhasil Jadi Prajurit TNI AD
Nandri Exaudi Simanjuntak resmi menjadi TNI AD pendaftaran rekrutmen tamtama TA 2026 Gelombang I, Minggu (22/3/2026). (Saritua Manalu/Detak Indonesia.co.id)
Berastagi, Detak Indonesia--Kisah inspiratif datang dari seorang pemuda asal Gang Sibayak, Desa Rumah Berastagi, Kecamatan Berastagi, Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara, Nandri Exaudi Simanjuntak, anak seorang petani sederhana, berhasil mewujudkan mimpinya menjadi seorang prajurit TNI AD tanpa melalui jalur calo maupun biaya sogokan.
Perjuangannya membuahkan hasil setelah ia resmi diumumkan lolos menjadi TNI AD dari pendaftaran rekrutmen Tamtama TNI AD 2026 gelombang I TA 2026 pendidikan dilaksanakan di Rindam I/BB Siantar. Keberhasilan ini mendapat sorotan karena menjadi bukti nyata bahwa tekad, doa orang tua dan kerja keras dapat mengalahkan keterbatasan ekonomi.
Drs Tambar Sembiring SH, Bendahara Korps Senior Wartawan Republik Indonesia (KOSWARI) Kabupaten Karo, sebuah organisasi wartawan di Sumatera Utara, menilai kisah Nandri Exaudi Simanjuntak layak dijadikan teladan bagi generasi muda, khususnya anak-anak desa yang kerap terkendala biaya.
"Dia membuktikan bahwa anak petani miskin pun bisa menjadi prajurit TNI-AD dengan cara yang terhormat. Tidak ada sogokan, tidak ada calo, hanya doa orang tua, kerja keras, dan kejujuran,” ujarnya, Minggu (22/3/2026).
Sejak kecil, Nandri hidup dalam keterbatasan. Sawah kecil milik kontrakan orang tuanya hanya cukup untuk makan sehari-hari, bahkan sering kali tidak mencukupi. Namun, kondisi tersebut tidak mematahkan semangatnya.
Ia mengenyam pendidikan di SMA swasta bersama Berastagi, tempat yang membentuk karakter bukan hanya pengetahuan umum, tetapi juga nilai agama, disiplin, dan keteguhan hati. Di sanalah tumbuh tekad untuk mengubah nasib tanpa meninggalkan akar kesederhanaan.
Di tengah cerita maraknya percaloan seleksi TNI, Nandri memilih jalannya sendiri. Ia berlatih fisik setiap hari berlari ke Puncak Gundaling dan belajar tekun di malam hari hanya dengan penerangan lampu seadanya.
Menurut Nandri, doa menjadi senjata utama dalam perjuangan. Dia tidak pernah tergoda jalan pintas. Ia hanya bersandar pada doa orang tua, dukungan keluarga, dan ketekunan melatih diri. Hasilnya, ia lolos seleksi murni.
Keberhasilannya resmi terwujud ketika namanya tercatat sebagai prajurit baru TNI AD. Momen itu bukan hanya kebanggaan pribadi, tetapi juga bukti bahwa jalan lurus bisa ditempuh dengan hasil gemilang.
Kisahnya kini menjadi inspirasi di kalangan masyarakat Berastagi. Banyak yang menilai, Nandri Exaudi Simanjuntak telah membuka mata bahwa peluang menjadi prajurit TNI bisa diraih tanpa harus membayar calo, asalkan disertai latihan serius, doa, dan keberanian.
Cerita hidup Nandri kini terus diceritakan di kampung halamannya. Ia dianggap sebagai bukti nyata bahwa mimpi besar dapat terwujud jika dijalani dengan iman, kejujuran dan keteguhan hati.
Ini pelajaran berharga bagi anak-anak desa lain. Jangan takut bermimpi, jangan mudah menyerah. Nandri adalah contoh bahwa dengan niat tulus, anak petani miskin pun bisa menjadi prajurit TNI yang terhormat. (stm)