Jalan ke Situs Makam Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja, Belum Bisa Dilalui Kendaraan

Sabtu, 04 April 2026 - 19:01:57 WIB

Jalan Putri Lopian antara Uruk Sangkalan menuju Desa Pearaja, hanya sekira 300 meter dari Sangkalan.(nes)

Uruk Sangkalan, Detak Indonesia-- Masyarakat Desa Uruk Sangkalan meminta kepada Pemkab Humbahas, Provinsi Sumatera Utara (Sumut) agar membangun jalan penghubung, Desa Uruk Sangkalan menuju Desa Pearaja.

Penantian pembangunan jalan itu dilakukan sejak Indonesia belum merdeka sebelum 1945.

Sangat lama menantinya, bahkan saat ini sudah 81 tahun kemerdekaan itu direguk, namun jalan sepanjang 3,5 Km itu masih saja hanya dalam angan.

"Jangankan dilalui roda empat, roda duapun belum bisa menembusnya. Yang bisa melewatinya hingga saat ini hanya dengan berjalan kaki, itupun juga cukup menyulitkan," keluh warga.

Ungkapan ini disampaikan Parningotan Sinaga (65), warga Desa Uruk Sangkalan kepada Detak Indonesia, saat berkunjung ke desa tersebut awal April 2026 baru lalu.

Parningotan menyebut, fungsi jalan itu pada dasarnya cukup strategis terhadap peningkatan perekonomian. Sebab dengan tersambungnya jalan desa bertetangga itu, otomatis tiga desa menjadi terkoneksi dengan baik.

Mulai dari Desa  Sitapung, Uruk Sangkalan dan Desa Pearaja itu sendiri.

Kondisi jalan menuju Desa Pearaja sekira 500 meter dari  Uruk Sangkalan.(nes)

 

Selain jarak masing masing desa cukup dekat, juga karena Desa Pearaja sejak lama dikenal sebagai desa bersejarah, karena di sana terdapat Makam Pahlawan Nasional, Raja Sisingamangaraja XII.

Tentu dengan terhubungnya desa desa terkait dipastikan akan terjadi peningkatkan kesejahteraan masyarakat. Namun dengan masih minimnya infrastrukur jalan disana, memaksa masyakat masih hidup terbelakang, terisolir.

"Selain Pearaja menjadi desa wisata sejarah, Desa Uruk Sangkalan juga dikenal sebagai   pemilik sawah terluas, dan menjadi salah satu desa di Kecamatan Parlilitan yang dijuluki sebagai "lumbung padi" selama ini," ungkap Parningotan.

Hal sama juga diucapkan Kepala Desa Sionom Hudon Utara, Raja Jonri Eduard Tinambunan, di kantornya akhir Maret 2026 lalu.

Tinambunan mengatakan, satu satunya jalan penghubung mulai dari Desa Sitapung - Uruk Sangkalan hingga ke Pearaja, dikenal dengan Jalan Putri Lopian.

Panjang Jalan Putri Lopian sekira 7.000 meter menghubungkan Pearaja hingga ke Sitapung.

Nama jalan itu sendiri diberikan pemerintah untuk mengingat sejarah perjuangan Raja Sisingamangaraja, yang berkorban melawan penjajahan Belanda pada masa itu.

 

Dan Putri Lopian adalah sang putri raja, yang lebih dulu korban sebelum Sisingamangaraja gugur.

"Nama Lopian-pun  diabadikan lewat pemberian nama jalan itu, namun kondisinya belum sepenuhnya mudah dilalui," ungkap Tinambunan prihatin.

Disebutkan Tinambunan, sejauh ini kondisi Jalan Lopian, bisa dilalui kendaraan roda 4 hanya dari Sitapung hingga Uruk Sangkalan.

Kondisinyapun masih cukup memprihatinkan. Dan masih butuh perhatian serius dari Pemkab Humbahas.

Sebab dari ujung jembatan Lae Luhung hingga ke Dusun Siganda sebelum tiba di Uruk Sangkalan, jalan selebar 3 meter itu di sebelah kiri terdapat jurang sangat dalam.

Jika pengendara kurang hati hati, maka nyawapun tidak terjamin.

Antara Sitapung dan Uruk Sangkalan dihubungkan dengan  jembatan Lae Luhung. Kedalaman jurang itu tidak kurang 85 meter, diukur saat pembangunan jembatan itu oleh PT APP tahun 2025 lalu.

Pembangunan Jembatan Lae Luhung itu sendiri sepenuhnya dibangun dan didanai oleh PT Asia Power Prima (APP), salah satu perusahaan yang saat ini tengah membangun pembangkit listrik dari Lae Rahu tersebut.

 

Sementara jalan desa dari Uruk Sangkalan sendiri menuju Pearaja kondisinya sama sekali belum bisa dilalui kendaraan.

Antara Desa Uruk Sangkalan dan Desa Pearaja juga dipisah oleh sungai besar bernama Lae Rahu.

"Terdapat satu jembatan penghubung yang kondisinya saat ini juga butuh perhatian dan tindakan nyata," ungkap Tinambunan.

Alindah Sinaga (59), warga Desa Uruk Sangkalan, berprofesi sebagai pemandu wisata yang sudah melalang buana ke berbagai pelosok nusantara kepada Detak Indonesia di tempat terpisah menyebut sangat kecewa terhadap pemerintah daerah.

Sebab hanya sepanjang 7,5 Km panjang Jalan Putri Lopian menghubungkan 3 desa bertetangga di kawasan situs Makam Pahlawan Nasional Raja Sisingamangaraja, itupun belum bisa dilalui kendaraan.

Harusnya kondisi jalan itu sejak lama sudah diaspal dan mulus. Sehingga masyarakat dapat merasakan arti kemederkaan yang sesungguhnya.

Minimnya perhatian pemerintah membuat jalan itu baru sekira 50 persen dapat dilalui kendaraan, itupun dengan bersusah payah.

 

"Separuhnya lagi bisa dilalui tapi baru dengan berjalan kaki," ungkap dia.

"Desa Pearaja (Sionom Hudon Sibulbulon-red), lanjut warga ini mengatakan mestinya sejak lama  wilayah itu sudah mendapat perhatian khusus dari pemerintah.

Baik pemerintah provinsi terlebih lagi perhatian Pemerintah Kabupaten. Namun, sejak dari masa penjajahan Belanda hingga  saat ini, perhatian pemerintah terhadap desa bersejarah itu  boleh dibilang sangat minim, kalau tidak mau disebut tidak ada sama sekali.

Pada hal di sanalah terdapat makam Raja Sisingamangaraja, yang menjadi Pahlawan Nasional dari Tanah Batak itu.

"Tetapi Pearaja walau sebagai desa sejarah, namun tidak didukung oleh infrastruktur yang mendukung," sebut Alindah.

Untuk membangun desa sejarah menjadi kawasan wisata kata dia, paling tidak harus tersedia infrastruktur dasar. Mulai dari jalan, jembatan dan pendukung lainnya.

Disebutkannya, jika Jalan Putri Lopian dari Sitapung menuju Pearaja atau sebaliknya, mudah dilalui dipastikan  masyarakat dari  berbagai desa dan kecamatan yang ada di Humbang Hasundutan, akan berdatangan.

 

Bahkan wisatawan domestik dan mancanegara juga akan datang, sebab selain Makam Sisingamangaraja, masih banyak lokasi wisata di Parlilitan yang belum digali dengan baik.

"Diharapkan kepada Pemerintah Kabupaten Humbang Hasundutan agar segera meningkatkan  pembangunan infrastruktur dasar, yang menjadi pondasi pembangunan di berbagai bidang itu," pinta warga ini penuh harap. (nes)