Olah Batang Sawit Jadi Moubiler Dekoratif yang Khas dan Unik

Selasa, 18 Agustus 2020 - 13:13:04 WIB

Batang kelapa sawit tua yang direplanting, ditumbang dan dibuang dicincang percuma selama ini, ternyata bisa dimanfaatkan dan bernilai ekonomis dijadikan mebel dekoratif dengan motifnya yang khas dan unik. (Syailan Yusuf/DetakIndonesia.co.id)

Tapung, Detak Indonesia--Tim Pengabdian Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) Universitas Riau (UR) melalui program desa binaan dan mahasiswa kuliah kerja nyata (Kukerta) terintegrasi melakukan pendampingan teknologi pengolahan batang sawit untuk dijadikan produk mebel dekoratif.

"Kegiatan dilakukan di Desa Pancuran Gading, Kecamatan Tapung Kampar,  Riau, salah satu bentuk aplikasi Ipteks pemanfaatan bahan baku batang sawit yang sudah tidak produktif," kata Fakhri, ST MT, Senin (17/8/2020).

"Batang kelapa sawit sangat berpotensi untuk dijadikan berbagai macam produk terutama untuk bahan baku meubileir dekoratif, tampilan serat batang sawit memiliki tampilan yang khas dan unique," ungkapnya.

Dikatakan, adanya integrasi program desa binaan dengan kegiatan Kukerta dirasakan sangat membantu terlaksananya program. 

"Mahasiswa memperoleh ilmu lapangan yang baru, dapat berkreasi dan berinovasi bersama masyarakat tempatan. Ini menjadi bekal untuk mengembangkan ilmunya dan pengalamannya tentang berbagai aspek pemanfaatan batang sawit dimasa mendatang," ujar Fakhri.

"Ketersediaan bahan baku yang melimpah, dapat menjadi alternatif untuk subtitusi penggunaan kayu hutan alam yang semakin langka," tambahnya.

Disampaikan, tujuan pendampingan penguatan teknologi proses produksi terdiri dari, pengolahan bahan baku, pengawetan bahan, serta aplikasi berbagai varian produk mebel dekoratif yang difinishing dengan bahan coating resin cair untuk menambah kekuatan, ketahanan serta memberikan kesan visual motif serat batang sawit yang khas dan unique. 

"Adapun kelemahan batang sawit adalah mudahnya berkembang jamur biru (blue stain) dan serangan kumbang bubuk, sehingga perlu diawetkan," urainya. 

"Teknologi pengawetan yang diterapkan ini merupakan teknologi yang sudah mendapatkan paten inventor oleh Fakhri ST MT dan Dra Yenita Morena MSi tahun 2015 melalui LPPM UR tahun 2015 sebagai pemegang hak cipta," jelas Fakhri.

Berbagai produk mebel yang sudah dibuat antara lain, produk meja mengaji untuk MDA, rak tempat Al-Qur’an untuk Masjid Al-Huda, serta beberapa varian produk meja dan kursi lainnya, sebutnya.

"Hasil kegiatan diharapkan menambah wawasan pengetahuan, sasaran tentang aspek pemanfaatan limbah batang sawit, membuka peluang usaha bagi para industri atau unit usaha pengetaman kayu, serta kelompok masyarakat di desa binaan, mendorong kreatifitas masyarakat menciptakan produk unggulan daerah, serta membuka peluang usaha baru di wilayah Desa Pancurangading dan sekitarnya," papar Ketua tim pengabdian desa binaan ini.

"Kita berharap beberapa tahun ke depan, hasil pengabdian ini dapat menjadikan Desa Pancuran Gading sebagai desa mandiri menjadi sentra pengembangan produk olahan berbasiskan bahan baku batang sawit," ucapnya.

Kegiatan ini dilaksanakan oleh tim pengabdian desa binaan yang diketuai oleh Fakhri ST MT serta anggota Ir Alfian Malik MM MT, Elianora ST MEng, Pedia Aldy ST MSc, serta Drs Zulkifli N MPd yang diintegrasikan dengan program bersama 9 orang mahasiswa Kukerta UR yang diketuai oleh Zainuddin terdiri dari mahasiswa beberapa fakultas. (lan)