Ibukota Masih Bergolak, Demonstran Kepung Istana Negara

Selasa, 20 Oktober 2020 - 18:59:58 WIB

Selasa siang (20/10/2020) sekira pukul 14.00-17.00 WIB, Ibukota Jakarta masih bergolak, demonstran kembali mengepung dan mendatangi Istana Negara Jakarta guna menyampaikan penolakan Undang-Undang Omnibus Law Cipta Kerja. (Aznil Fajri/Detak Indonesia.co.id)

Laporan : Aznil Fajri, Jakarta

Jakarta, Detak Indonesia--Selasa siang (20/10/2020) sekira pukul 14.00-17.00 WIB, Ibukota Jakarta masih bergolak, demonstran kembali mengepung Istana Negara. 

Seputaran jalanan di kawasan Istana Negara Jakarta sudah dipasangi barikade kawat berduri. Sehingga demonstran yang menolak dan minta dibatalkan UU Omnibus Law Cipta Kerja tidak bisa mendekat ke Istana Negara Jakarta tersebut. 

Massa nampak berkumpul di beberapa titik seperti di Tugu Tani dan Patung Kuda Monas. Di Tugu Tani massa berorasi, demikian juga di Tugu Patung Kuda Monas Jakarta. 

Sebelumnya massa buruh Persaudaraan Pekerja Muslim Indonesia (PPMI) dari Bogor, Cianjur, Bekasi, dan kawasan lain di Jawa Barat, serta beberapa massa demonstran sebelum bergerak ke kawasan Istana Negara, mereka melancarkan aksi unjukrasa di depan Kantor DPP PDIP Jalan Diponegoro No. 58 dan Kantor PPP No. 66 Menteng Jakarta Pusat. 

Massa ini menyampaikan rasa kecewa  terhadap Partai PDI Perjuangan yang telah mengesahkan UU Omnibus Law Cipta Kerja yang akan menyengsarakan rakyat, buruh, dan anak cucu mereka nantinya. 

Dalam orasinya di depan Kantor DPP PDIP ini, orator minta dikenang lagi peristiwa berdarah dulu di depan Kantor DPP PDIP ini dulunya di Era Orde Baru banyak jatuh korban dan saksi sejarah mengatakan itu demi membela wong cilik, rakyat kecil. 

Tapi sekarang kenapa melupakan perjuangan membela wong cilik itu.  Kenapa sekarang berubah dengan mengesahkan UU Omnibus Law. Itu tidak membela kepentingan buruh,  rakyat tapi membela kaum kapitalis, liberalis, oligarki. 

Bahwa Bung Karno, kata orator demonstran, pernah menegaskan bahwa musuh terbesar dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia adalah penjajah Belanda, tapi nanti musuh terbesarmu adalah bangsamu sendiri, dan ini terjadi sekarang. DPR mengkhianati rakyat. Seharusnya membela kepentingan rakyat, tapi membela kapitalis. 

Di tempat lain, di lokasi Patung Kuda Monas Jalan Medan Merdeka Barat massa Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) tumpah ruah di sini. Massa HMI menggunakan mobil dan pengeras suara sangat lantang menyerukan penolakan UU Omnibus Law Cipta Kerja. 

Massa HMI ini berhadapan dengan petugas kepolisian yang dibatasi dengan barikade kawat berduri dekat Tugu Patung Kuda Monas dekat Kantor Kementerian Pariwisata. 

Pukul 17.05 WIB aparat polisi menyerukan massa pengunjukrasa agar membubarkan diri. Disusul dengan melepaskan tembakan gas air mata sedikit. Massa demonstranpun yang tadinya sebagian akan menginap sampai malam di jalanan, perlahan  membubarkan diri.(*)