Jual F-15 Eagle II ke Indonesia, China Tuding AS Ingin Memantik Perang di Asia

Sabtu, 26 Maret 2022 - 01:28:25 WIB

Penjualan pesawat F-15 Eagle II AS ke Indonesia yang dikhawatirkan China. (ist)

Natuna Utara, Detak Indonesia--Amerika Serikat (AS) bersiap menjual 36 unit F-15 Eagle II ke  Indonesia.

AS tak mau kalah dengan Prancis yang berhasil menjual Rafale ke Indonesia, intinya F-15 Eagle II harus ikut diakuisisi. Langkah AS menjual F-15  Eagle II ke Indonesia sebenarnya sudah bisa diprediksi.

AS yang melarang Indonesia membeli Su-35 tentu harus memberikan penggantinya. F-15  Eagle II jadi pengganti Su-35 bagi Indonesia.

Dilansir Zonajakarta.com, walau sebetulnya  Indonesia mengincar F-35 AS. F-35 memang menggoda bagi Indonesia.

Kemampuan siluman serta in depth strike F-35 membuatnya jadi jet tempur paling efektif dalam pertempuran. Karena F-35 akan jadi sasaran serangan musuh AS macam Rusia dan tentunya  China.

"F-35 yang dijual di Amerika Serikat memiliki banyak syarat tambahan. Karena F-35 Amerika Serikat bukanlah sistem tempur tunggal, ia perlu bekerja sama dengan pasukan darat dan laut untuk memainkan peran tempurnya," jelas 163.com.

F-35 dipandang sebagai otak pertempuran udara Sekutu. Maka tak heran bila Rusia dan China  akan menargetkan jet tempur tersebut untuk merusak jaringan tempur AS di Asia Pasifik.

"Dengan kata lain, begitu Indonesia membeli F-35, Indonesia hanya dapat mengintegrasikan angkatan udaranya sendiri ke dalam jaringan tempur Asia-Pasifik AS yang akan jadi sasaran bagi lawan AS dalam perang," katanya.

Sebetulnya F-15 Eagle II tak buruk-buruk amat bagi Indonesia  bahkan lebih baik daripada Su-35. Apalagi Indonesia disebut meminta kelengkapan EPAWSS bagi F-15 Eagle II. Eagle Passive Active Warning Survivability System (EPAWSS) merupakan sistem pertahanan diri bagi F-15 Eagle II. Sistem ini memungkinkan F-15 lebih survive dalam medan tempur.

Ia memadukan kesadaran situasional di mana posisi musuh akan segera ketahuan bila menembak F-15. Setelah itu secara otomatis F-15 akan melakukan manuver menghindar sekaligus menembak balas lawan.

"Teknologi EPAWSS BAE Systems yang canggih memberi pilot kesadaran situasional maksimum, membantu mereka mendetemend mengidentifikasi, dan dengan cepat merespons potensi ancaman dengan mengumpulkan dan memproses energi elektromagnetik, secara instan menciptakan gambaran 360 derajat yang komprehensif dari ruang pertempuran. EPAWSS memiliki bandwidth instan yang luas dan kemampuan pemindaian berkecepatan tinggi untuk mendeteksi semua kelas ancaman RF, termasuk kemungkinan intersep (dari musuh)," jelas baesystems.com.

Sementara itu pengamat militer China, Han Dong, juga mengakui kemampuan F-15 Eagle II Indonesia. Ia menyebut F-15 jet tempur canggih masa kini.

China sendiri mewaspadai rudal jarak jauh milik F-15 Eagle II yakni AGM 158. Bila AS sampai menjual AGM 158 maka radius tempur F-15 Eagle II Indonesia sangat mengancam unsur militer China di perairan Asia Tenggara.

"F-15EX dapat meluncurkan rudal udara-ke-darat jarak jauh Slam-ER atau AGM 158 JASSM. Apakah senjata ofensif ini akan dijual ke Indonesia telah menarik banyak perhatian," jelas media China, sohu.com.

Karena berbagai ketakutan inilah China  menuding AS ingin memperkeruh situasi di Indo Pasifik.

"Pada bulan Maret tahun 2022 ini, Prancis mengumumkan telah mencapai kesepakatan pembelian dengan Indonesia untuk 42 jet tempur Rafale, tetapi pada hari yang sama Amerika Serikat mengumumkan telah menyetujui ekspor 36 jet tempur F-15ID ke Indonesia," papar media China xinmin.cn pada 17 Maret 2022 lalu.

Baginya, AS sedang memantik  perang di Asia dengan menimbulkan kekacauan melalui penjualan alutsista ke negara lain.

"Jangan sampai dunia berada dalam kekacauan, Amerika Serikat adalah raja perang. Penjualan senjata asing adalah konspirasi yang terkait dengan politik dan konspirasi yang berhubungan erat dengan bisnis. Di satu sisi, Amerika Serikat menganggap penjualan militer asing sebagai pengungkit untuk campur tangan dalam politik negara lain dan secara terang-terangan ikut campur dalam urusan luar negeri," jelasnya.

Jika perang terjadi maka AS akan meraup untung dari penjualan senjata mereka. Sehingga Washington terus mendapat untung bila dunia selalu ada perang.

"Di sisi lain, Amerika Serikat menjual senjata atas nama menjaga perdamaian, tetapi diam-diam ingin perang terjadi, dan sering melepaskan teror dan permusuhan di seluruh dunia, membuka jalan bagi pedagang senjata untuk mendapatkan dolar. Dari perang  Afghanistan hingga krisis Suriah, dari konflik Israel-Palestina hingga konflik Rusia-Ukraina, Amerika Serikat berada di balik setiap perang," ungkapnya.

Terpisah, Amerika Serikat menjual pesawat tempur F-15 Eagle II kepada Indonesia, alasannya guna menjaga kepentingan negara adidaya itu di kawasan Asia Tenggara.

“Penjualan yang diusulkan ini akan mendukung tujuan kebijakan luar negeri dan tujuan keamanan nasional Amerika Serikat dengan meningkatkan keamanan mitra regional penting yang merupakan kekuatan untuk stabilitas politik, dan kemajuan ekonomi di kawasan Asia-Pasifik,” ujar DSCA.

“Departemen Luar Negeri telah membuat keputusan menyetujui kemungkinan Penjualan Militer Asing kepada Pemerintah Indonesia Pesawat F-15ID dan peralatan terkait dengan perkiraan biaya 13,9 miliar dollar AS,” lapor dsca.mil, Kamis (10/2/2022).

Selain menjual F-15 Eagle II, AS membekali juga penjualan kelengkapan penunjang, pelatihan pilot hingga persenjataan.

Setidaknya beberapa kelengkapan itu antara lain:

-45 unit radar AESA AN/APG-82(v)1
-45 unit AN/ALQ-250 EPAWSS
-40 unit AN/AAQ-13 LANTIRN navigation pods
-48 unit Advanced Display Core Processor (ADCP) II digital computers
-80 unit Joint Helmet Mounted Cueing Systems (JHMCS)
-40 unit AN/AAQ-33 Sniper Advanced Targeting Pods
-156 unit LAU-128 launchers
-40 unit M61 Vulcan
-87 unit mesin F110-GE-129 atau F100-PW-229

Indonesia harus merogoh kocek untuk menjaga kepentingan AS itu mencapai 13 juta dolar AS lebih. Indonesia menurut AS membutuhkan kemampuan pertahanan yang mumpuni.

Ancaman China

“Sangat penting bagi kepentingan Nasional AS untuk membantu Indonesia dalam mengembangkan dan memelihara kemampuan bela diri yang kuat dan efektif,” jelasnya.

Apalagi ancaman dari China di Natuna Utara juga diperhatikan AS. Sebelum adanya penjualan ini, AS sudah menegaskan akan membantu Indonesia menghadapi agresi China di Natuna Utara.

Caranya dengan menjual peralatan militer seperti penjualan alutsista dan latihan perang.

“Indonesia adalah pemimpin di ASEAN dan jangkar tatanan berbasis aturan di Indo-Pasifik. Amerika Serikat tetap terlibat secara mendalam di Indo-Pasifik, dan kami serta mitra kami percaya bahwa cara terbaik untuk mencegah konflik adalah dengan memperkuat nilai-nilai bersama kami,” lapor state.gov.

“Kami mendukung upaya kuat Indonesia untuk menjaga hak maritimnya dan melawan agresi RRT di Laut Cina Selatan, termasuk di zona ekonomi eksklusifnya di sekitar Kepulauan Natuna,” tegas state.gov.

Indonesia Sengaja Beli F-15 Eagle II dan Rafale untuk Keroyok J-20 Mighty Dragon China di Natuna. (*/di)