Proyek Payung Elektrik Rp42 M, Biaya Ini Sangat Besar dibanding Tempat Lain

Selasa, 28 Maret 2023 - 12:37:42 WIB

Proyek payung elektrik di Masjid Agung An Nur Pekanbaru robek diterpa hujan dan angin kini disorot karena bahannya terpalnya tipis, besinya gampang rontok diterpa hujan dan angin. (tsi)

Pekanbaru, Detak Indonesia -- Kontroversi proyek payung elektrik di Masjid Agung  An-Nur Kota Pekanbaru terus menggema. Hal itu mengemuka paska dua dari enam terpal payung itu rusak dan robek usai diterpa hujan deras disertai angin kencang.

Menanggapi hal itu, Anggota DPRD Riau Fraksi PAN, Dr Mardianto Manan ST MT meragukan kualitas dari payung elektrik yang katanya meniru seperti yang dibangun Masjid Nabawi Madinah itu.

Dia menantang Dinas PUPR Provinsi Riau untuk buka-bukaan terkait RAB pengadaan proyek payung elektrik senilai Rp42 miliar tersebut.

"Kita tantang PUPR tolong dibuka Rp42 miliar itu apa saja, keluarkan disini (DPRD Riau, red) sehingga mata pandang kita tidak saling mencurigai," kata Mardianto saat dijumpai di ruang Fraksi PAN Gedung DPRD Riau, Senin petang (27/3/2023).

 

Soal nilai proyeknya yang fantastis itu, Mardianto lalu membandingkan dengan proyek pengadaan payung elektrik yang sama di daerah lain.

"Biaya ini sangat besar dibanding tempat yang lain. Tempat yang lain justru dengan 10 sampai 12 payung biayanya hanya Rp30 sampai Rp40 miliar. Ini hanya enam payung keluar Rp42 miliar, perlu dilakukan kajian-kajian," ungkapnya.

Secara pribadi dia menduga ada kejanggalan dalam proses tender pengadaan payung elektrik di Masjid Agung An Nur tersebut.

"Ada tiga hal yang menentukan dia (kontraktor pengadaan, red) menang dan kalah dalam tender. Pertama skillnya, artinya keahlian, tenaga kerja atau SDMnya yang bergerak dibidang itu," bebernya.

 

Kedua, kata Mardianto, harus memiliki kemampuan dasar mumpuni dan pengalaman kerja sejenis yang pernah dikerjakan oleh perusahaan calon pemenang tender.

"Terakhir, mereka harus mempunyai dana yang cukup untuk membiayai. Tak ada ketergantungan terhadap pencairan termin. Kalau ketiga ini sudah oke, berarti dia bisa memenangkan tender," tegasnya.

Mardianto kembali menekankan perlu adanya Tim Independen untuk mengkaji proyek payung elektrik mahal tapi gampang rusak tersebut dimulai dari proses tender hingga pengadaan barang tersebut.

"Apakah identifikasi pengadaan barang dan jasa tersebut sesuai dengan standar RAB (Rencana Anggaran Belanja) Rp42 miliar tadi. Kan bisa dilihat, harus dibuka Rp42 miliar itu apa saja," tegasnya.

 

Dirinya sangat menyayangkan rusaknya payung elektrik tersebut padahal belum sempat digunakan. Mardianto menilai ini adalah suatu kecerobohan dan bukanlah suatu kecelakaan atau musibah.

"Memang terjadi bencana alam (hujan deras dan angin kencang, red) tapi saya melihat dari proses tender dari awal dilakukan, itu seharusnya tahun anggarannya 2022. Akhir Desember 2022 ditutup, tapi karena belum selesai terlepas apapun alasannya, sengaja atau tidak sengaja, ceroboh atau tidak ceroboh, profesional atau tidak profesional akhirnya diperpanjang satu kali perpanjangan," ucapnya.

Usai perpanjangan pertama, proyek pemasangan tak kunjung selesai sehingga dilanjutkan dengan perpanjangan kedua dan perpanjangan terakhir hingga 28 Maret 2023.

"Kalau terjadi angin yang kencang pada masa tiga hari mau serah terima pekerjaan, saya ragukan kualitas konstruksi dari alat yang akan dibangun tadi, apakah payungnya atau besinya. Saya rasa ini perlu dikaji tim independen, tak bisa diserahkan pada Dinas PUPR yang mengerjakan. Dia akan mungkin berpihak ke situ karena bagaimanapun antara tender dan pemenang tender atau pemberi jasa itu diduga ada "main mata". Jadi serahkan pada tim independen yang ahli konstruksi dan ahli pengadaan barang dan jasa pada pengadaan ini," bebernya Mardianto.

 

Diberitakan sebelumnya, dua dari enam payung elektrik di Masjid Agung An Nur robek dan rusak parah paska hujan deras disertai es serta angin kencang yang menerjang Kota Pekanbaru dan sekitarnya pada Sabtu lalu, (25/3/2023).

Dari pantauan awak media ini di lokasi, salah satu dari enam payung senilai Rp42 miliar itu mengalami robek yang cukup lebar. Terpal atau kain payung itu terlihat melorot ke bawah hingga menyentuh lantai.

Hasil pantauan di lokasi proyek, bahan payung tersebut terlihat tipis sehingga tidak mampu menahan beban terpaan angin dan hujan.

Sejumlah pekerja yang berada di lokasi terlihat sedang memperbaiki dan menyambung terpal payung yang robek itu menggunakan perekat/lem dan dibantu alat pemanas.

 

Ketua Harian Masjid Agung An Nur, Zulhendri Rais membenarkan perihal kerusakan itu. Kata dia, ada dua payung yang patah paska hujan deras disertai es pada Sabtu lalu.

"Cuma dengan kondisinya kemarin karena ada hujan badai dan hujan es di Pekanbaru dan ada dua payung yang patah. Tadi kita lihat orang-orang sudah mulai memperbaikinya. Kita berharap tetap nanti bisa kita pakai halaman masjid ini untuk sholat Idul Fitri sebagaimana biasanya di tahun-tahun sebelumnya," kata Zulhendri Rais. (*/di)