PTPN IV PalmCo: Kepercayaan Kunci Kemitraan Sawit Berkelanjutan

Dirut PTPN IV PalmCo Jatmiko Santosa (foto bawah) bersama petani menegaskan, kepercayaan menjadi pondasi utama dalam membangun kemitraan perkebunan sawit antara perusahaan-petani yang produktif dan berkelanjutan.(Dok. Humas PTPN IV Regional III)
Penulis: Redaksi
Minggu, 04 Oktober 2026 | 02:47:18 WIB

Pekanbaru, Detak Indonesia -- PTPN IV PalmCo menegaskan bahwa kepercayaan menjadi pondasi utama dalam membangun kemitraan perkebunan sawit antara perusahaan dan petani yang produktif dan berkelanjutan.

Hal itu ditegaskan manajemen PTPN IV pada saat kunjungan studi banding petani, pengurus koperasi, pemerintah desa, serta perwakilan dinas perkebunan dari Kalimantan Barat ke PTPN IV Regional III di Riau.

Direktur Utama PTPN IV PalmCo Jatmiko Santosa dalam keterangan tertulisnya, Minggu (4/10/2026) mengatakan hubungan antara perusahaan dan petani pada dasarnya dibangun untuk tumbuh dan berkembang bersama.

"Kalaupun mau maju, kalaupun mau sejahtera, petaninya juga harus ikut. Tidak mungkin PTPN bisa sejahtera kalau petani yang menjadi mitranya tidak sejahtera," kata Jatmiko.

Sejak awal berdiri, PTPN IV PalmCo menempatkan petani sawit sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan perusahaan. Langkah itu sendiri tak lepas dari upaya PalmCo dalam mendongkrak produktivitas petani, memangkas ketimpangan produksi, meningkatkan kesejahteraan petani, serta sejalan dengan mendukung program pemerintah dalam mewujudkan ketahanan pangan dan energi nasional.

Untuk mencapai tujuan tersebut, entitas terus mengakselerasi peremajaan sawit rakyat (PSR). Sepanjang periode 2024-2025, program PSR yang dikebut PalmCo tercatat mencapai 36.681 Ha. Sementara hingga 2029 mendatang, program PSR ditargetkan menyentuh 32 ribu keluarga petani sawit Indonesia dengan penambahan total luas mencapai 64.000 Ha.

Jatmiko menegaskan, akselerasi PSR tersebut kini telah dirasakan para petani kala produktivitas mereka melonjak hingga mencapai 23,9 ton/Ha untuk usia tanaman menghasilkan 3 tahun, jauh di atas standar nasional sebesar 19 ton/Ha.

"Alhamdulillah, hari ini petani binaan kita bisa bangga menjadi bagian dari PTPN IV PalmCo. Tidak hanya karena mendapat produksi tinggi, namun juga mendapat jaminan harga yang kompetitif di setiap daerah," ujarnya.

Hal tersebut yang kini menjadikan kemitraan petani kian kuat dengan transparansi dan komitmen menjadi pegangan hingga menumbuhkan kepercayaan untuk berkembang dan mencapai kesejahteraan mulai dirasakan. "Saya berulang kali menegaskan kepada teman-teman, PTPN IV memberikan jaminan produksi dengan pilar yang kita tawarkan," ujarnya.

Salah satu wilayah yang berhasil mengakselerasi dan menerapkan kemitraan dengan mengusung empat pilar, mulai dari penerapan single management, penyediaan bibit sawit unggul bersertifikat, pelatihan off taker, hingga penguatan kelembagaan di PTPN IV PalmCo adalah Regional III Riau.

Untuk itu, PTPN IV PalmCo pun mengundang para petani, perwakilan pemerintah kabupaten hingga desa untuk mempelajari kemitraan positif yang dibentuk PalmCO di Bumi Lancang Kuning.

Jatmiko menjelaskan bahwa kemitraan petani di Riau telah berlangsung selama empat dekade terakhir. Ia mengakui perjalanan kemitraan dengan ribuan petani di Riau memiliki kompleksitas tersendiri. Namun, ketika manajemen berlangsung dengan baik, karakter tersebut justru menjadi salah satu kekuatan Regional III.

Hubungan itu juga tidak selalu berjalan tanpa tantangan. Jatmiko yang pernah memimpin PTPN V, sebelum menjadi PTPN IV Regional III saat ini mengakui dalam perjalanan panjang kemitraan sejak dekade 1980-an hingga memasuki generasi petani berikutnya, perusahaan dan petani pernah mengalami pasang surut.

Perbedaan pemahaman, komunikasi yang belum optimal hingga perubahan lanskap industri sawit menjadi bagian dari dinamika yang harus dilalui bersama. Dari pengalaman tersebut, kata dia, perusahaan kemudian memilih kembali pada khittah awalnya, tumbuh dan berkembang bersama petani.

Upaya itu mulai diperkuat secara bertahap dan semakin masif sejak 2019 melalui inisiatif BUMN untuk Sawit Rakyat. Perusahaan tidak hanya membenahi pola hubungan eksternal dengan petani, tetapi juga memperkuat cara pandang dan organisasi di internal perusahaan agar kemitraan ditempatkan sebagai salah satu prioritas utama.

"Kami akhirnya menyadari bahwa kami harus kembali lagi ke khittah, bahwa kami dibentuk untuk berdampingan bersama petani," kata dia.

Salah satu pendekatan yang kemudian dikembangkan adalah pola kemitraan melalui Peremajaan Sawit Rakyat (PSR), termasuk konsep single management.

Jatmiko menegaskan konsep tersebut bukan dimaksudkan untuk mengambil alih pengelolaan petani. Tujuannya adalah memastikan standar pembangunan dan pemeliharaan kebun dapat dijalankan dengan baik sehingga produktivitas yang diterima petani juga lebih terjaga.

"Single management bukan berarti kami mau menguasai petani. Kami ingin memastikan hasil yang nantinya diterima petani itu sesuai standar," jelas Jatmiko.

Yang membedakan, lanjut dia, kemitraan PTPN tidak berhenti setelah proses peremajaan selesai. Ia mengatakan kepercayaan petani tidak dapat dibangun hanya melalui komunikasi ataupun janji perusahaan.

Lebih jauh, Region Head PTPN IV Regional III Bambang Budi Santoso menambahkan bahwa kepercayaan harus dibuktikan melalui konsistensi pendampingan, kualitas kebun, produktivitas, transparansi hubungan, hingga keberanian perusahaan menerima kritik dari petani.

"Tips kami adalah membangun hubungan yang harmonis dengan komunikasi yang kuat, tetapi saling memahami. Tidak bisa saling menang sendiri," paparnya.  
konsistensi itulah yang perlahan mengembalikan kepercayaan petani.

Untuk menjaga keberlanjutan produktivitas, perusahaan juga memastikan penggunaan bibit bersertifikat dan unggul. Regional III saat ini memiliki tujuh sentra pembibitan yang tersebar di Tandun, Rokan, Sungai Pagar, Tanah Putih, Air Molek, Lubuk Dalam dan Dumai.

Bibit tersebut tidak hanya diperuntukkan bagi petani mitra binaan, tetapi juga dapat diakses masyarakat. Kebijakan itu dilakukan untuk memperkecil risiko penggunaan bibit tidak berkualitas yang dampaknya dapat dirasakan petani hingga puluhan tahun.

Kepala Divisi PSR PTPN IV PalmCo Abdul Muthalib mengatakan pengalaman Regional III menjadi salah satu referensi untuk memperkuat pola kemitraan di wilayah PTPN IV lainnya, termasuk Regional V di Kalimantan.

Menurut dia, karakter perkebunan di Regional III dan Regional V memiliki sejumlah kemiripan. Kebun perusahaan sama-sama memiliki hubungan yang dekat dengan kawasan plasma dan masyarakat, sehingga pengalaman kemitraan di Riau dinilai relevan untuk dipelajari dan disesuaikan dengan karakter Kalimantan.

Studi banding tersebut juga menjadi kesempatan bagi petani dan pemangku kepentingan dari Kalimantan untuk melihat langsung bahwa keberhasilan kemitraan membutuhkan keterlibatan semua pihak.

Abdul menilai dukungan pimpinan perusahaan menjadi penting agar persoalan yang muncul di lapangan dapat diselesaikan lebih cepat. Ketika perusahaan, pemerintah, koperasi dan petani memiliki pemahaman yang sejalan, pola kemitraan akan lebih mudah dikembangkan.

Ia mengatakan kepercayaan petani terhadap PTPN IV Regional V juga mulai kembali tumbuh seiring dengan penguatan komitmen perusahaan terhadap kemitraan. Regional III kemudian menjadi salah satu rujukan untuk membangun contoh nyata yang dapat dilihat petani secara langsung.

Sebab bagi petani, lanjut dia, contoh keberhasilan jauh lebih mudah meyakinkan dibanding sekadar penjelasan.

"Starting point-nya sekarang adalah membuat pola yang sama seperti di Regional III. Petani itu pasti ingin melihat contoh. Kalau mereka melihat contohnya berhasil, mereka akan lebih yakin," demikian dia. (tim)

Reporter: Redaksi