Penuhi Kebutuhan Biodiesel B50

PTPN IV PalmCo Dorong Peningkatan Panen Petani Sawit Rakyat Lewat Riset dan Inovasi

Di Baca : 29 Kali
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K Santosa, saat hadir sebagai Keynote Speaker dalam pembukaan Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI) 2026 yang diselenggarakan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) di Jakarta (20/7/2026). (Dok. Humas PTPN IV Regional III)

Jakarta, Detak Indonesia--PT Perkebunan Nusantara IV PalmCo (PTPN IV PalmCo) menekankan pentingnya peningkatan produktivitas di sektor hulu kelapa sawit melalui penerapan riset, penggunaan bibit unggul, dan penguatan kelembagaan petani. Hal ini dinilai krusial untuk menyeimbangkan tingginya permintaan hilirisasi, khususnya dalam pemenuhan mandatori biodiesel B50, tanpa harus mengorbankan stabilitas pasokan ekspor nasional.

Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K Santosa, saat hadir sebagai Keynote Speaker dalam pembukaan Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI) 2026 yang diselenggarakan oleh Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) di Jakarta (20/7/2026).

Mengangkat tema "Strategi Industri dalam Peningkatan Produktivitas Kelapa Sawit melalui Inovasi dan Upaya Pemenuhan Sertifikasi Keberlanjutan", Jatmiko menyoroti kondisi industri kelapa sawit saat ini yang membutuhkan penyesuaian strategi hulu.

"Hari ini kita menghadapi sebuah paradoks kelapa sawit nasional. Misi hilir sangat jelas dengan Asta Cita Bapak Presiden Prabowo Subianto, kemandirian energi B50. Di sisi lain, kita juga perlu terus menjalankan ekspor secara berkelanjutan. Sekarang kalau kita tengok realitas hulu kita, produktivitas CPO cenderung stagnan," papar Jatmiko.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Jatmiko menekankan bahwa kuncinya ada pada peningkatan produktivitas, khususnya pada perkebunan sawit rakyat yang mencakup sekitar 42 persen dari total luasan lahan nasional.

"Seandainya satu ton saja produktivitas masyarakat naik, itu ada tambahan suplai CPO 6.000.000 ton. Kebutuhan biodisel B50 langsung bisa kita jalankan. Ini gap yang mesti kita jawab, sehingga kita mesti berpikir juga bagaimana kita menciptakan market driven research, ketemu peneliti dan juga dengan pengusaha dan juga rakyat. Tidak hanya berhenti di sebuah jurnal," tegasnya.







[Ikuti Terus Detakindonesia.co.id Melalui Sosial Media]






Berita Lainnya...

Tulis Komentar