DPC PA GMNI Humbahas Ajak Kampus di Sumut Hadirkan Mahasiswa sebagai Relawan Penjaga Pemulihan Psikologis Anak-anak
DPC PA GMNI Humbahas menegaskan bahwa penanganan bencana yang efektif tidak mungkin diserahkan sepenuhnya pada mekanisme birokratis yang lambat. Kolaborasi lokal justru lebih relevan dan responsif. Kampus, gereja, komunitas adat, organisasi masyarakat, dan relawan yang sudah bekerja sejak hari pertama harus diperkuat, bukan dibiarkan bekerja sendiri. Solidaritas akar rumput sering kali lebih cepat daripada program pusat yang membutuhkan koar-koar publik sebelum bergerak.
Lebih jauh, DPC PA GMNI Humbahas mengingatkan bahwa dampak psikologis pada anak-anak adalah dimensi bencana yang paling sering diabaikan. Trauma yang tidak dirawat dengan baik bukan hanya melukai masa kecil mereka, tetapi mengganggu masa depan mereka, bahkan masa depan sosial daerah ini. Bencana bukan hanya merubouhkan bangunan, tetapi juga meretakkan struktur batin yang tidak bisa diperbaiki dengan alat berat.
"Ini bukan sekadar soal kemanusiaan—ini soal tanggung jawab moral kita sebagai Anak bangsa. Jangan biarkan trauma anak-anak kita dirawat dengan seremoni. Pemulihan psikologis tidak boleh menjadi catatan kaki dari laporan bencana,” tambah Ganda.
DPC PA GMNI Humbahas menyerukan agar perguruan tinggi di Sumatera Utara segera menggerakkan mahasiswanya sebagai relawan pemulihan psikososial.
"Bukan hanya untuk membantu hari ini, tetapi untuk menjaga masa depan anak-anak yang sedang belajar kembali percaya pada dunia. Kampus harus hadir—di lapangan, di pengungsian, di ruang-ruang kecil tempat anak-anak mencoba tersenyum kembali," tutup Ganda M Sihite. (rls/di)
Tulis Komentar