Jembatan Jalan Nelayan Ambruk, Pembangunan Serampangan
Katastrofe Likuifaksi Lokal: Energi getaran masif memicu tekanan air pori berlebih (excess pore water pressure) di bawah oprit jembatan. Kondisi tanah yang jenuh air seketika kehilangan tegangan geser efektif (shear strength), menyebabkan tanah berperilaku seperti cairan (liquefaction).
Kegagalan Total Dinding Penahan (Retaining Wall Failure): Akibat hilangnya stabilitas tanah penyokong, terjadi pergerakan lateral tanah secara ekstrem (lateral displacement). Hal ini memaksa struktur bibir jembatan runtuh ke bawah setinggi satu meter karena kehilangan daya dukung aksial (bearing capacity).
Pemko Pekanbaru Kunci Posisi, Desak Audit Forensik
Senada dengan tekanan dari TOPAN RI, Wali Kota Pekanbaru, Agung Nugroho, mengonfirmasi bahwa tim teknis dari Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Pekanbaru telah mengunci area untuk menghentikan laju kerusakan sekunder.
"Kemarin tim dari PUPR sudah turun ke lokasi untuk mengecek kondisi jembatan dan berkoordinasi dengan BWSS III," ujar Agung Nugroho.
Namun, Rahman Lubis kembali menegaskan bahwa koordinasi saja tidak cukup. TOPAN RI menuntut BWSS III segera melakukan tindakan teknis radikal:
Stop Total proyek pemancangan di zona bahaya jembatan hingga audit forensik independen selesai.
Melakukan Shoring dan Grouting (penyuntikan semen bertekanan tinggi) darurat untuk menghentikan pergeseran tanah bawah permukaan agar jembatan tidak runtuh total (progressive collapse).

Pembangunan Pompa Parit Belanda Jalan Nelayan Rumbai Pekanbaru sejak 2024 lalu sampai 2026 ini tak kunjung selesai dibangun, Senin (15/6/2026). (azf)
Tulis Komentar