PalmCo: Kemitraan Petani Kunci Kemandirian Pangan dan Energi
Suhendri mengatakan PalmCo mengembangkan lima program utama kemitraan petani, yakni penyediaan benih unggul dan peremajaan sawit, pendampingan untuk memperkecil kesenjangan produktivitas, akses pembiayaan dan sarana produksi, kepastian penyerapan tandan buah segar (TBS) dengan sistem grading yang transparan, serta penguatan koperasi dan sistem ketertelusuran (traceability).
Hingga Mei 2026, kemitraan sawit rakyat PalmCo telah mencapai 52.480 hektare yang terdiri atas program revitalisasi perkebunan, konversi karet ke sawit, dan PSR yang didukung Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP). Roadmap perusahaan menargetkan luasan kemitraan terus bertambah hingga 64.176 hektare pada 2029.
Suhendri menambahkan sejumlah program kemitraan telah menunjukkan hasil nyata. Pada beberapa koperasi binaan di Kabupaten Rokan Hulu, produktivitas kebun mampu mencapai lebih dari 20 ton per hektare dengan peningkatan sisa hasil usaha (SHU) petani dan penguatan kelembagaan koperasi.
Menurut dia, kemitraan PalmCo tidak berhenti pada transaksi pembelian TBS, tetapi diarahkan membangun ekosistem usaha yang membuat petani lebih produktif, koperasi semakin kuat, dan pembiayaan semakin mudah diakses.
"PalmCo menjawab kebutuhan domestik dan ekspor bukan dengan memilih salah satunya, tetapi dengan memperkuat ekosistem melalui peningkatan produktivitas, percepatan hilirisasi, dan kemitraan petani," ujarnya.
Selain memperkuat kemitraan, PalmCo juga menyiapkan pengembangan industri hilir berupa biodiesel, minyak goreng, shortening, cocoa butter substitutes (CBS), hingga compressed biomethane gas (CBG) yang akan didukung pasokan bahan baku dari kebun inti maupun petani mitra. Dengan strategi tersebut, perusahaan menargetkan terciptanya rantai pasok sawit nasional yang mampu menopang ketahanan pangan dan energi sekaligus meningkatkan nilai tambah di dalam negeri. (tim)
Tulis Komentar