Anggaran Ratusan Miliar Mubazir?

Kepala BP2JN Sumbar Elsa Putra Friadi Bungkam Soal Dugaan Kegagalan Mutu Kontruksi

Di Baca : 32 Kali

Sumbar, Detak Indonesia--Sikap anti-kritik dan terkesan alergi terhadap kontrol sosial dipertontonkan oleh Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sumatera Barat, Elsa Putra Friadi. Pejabat publik yang digaji dari uang rakyat tersebut memilih bungkam seribu bahasa dan enggan merespons konfirmasi tertulis yang dilayangkan oleh Tim Investigasi Gabungan dari Dewan Pimpinan Pusat Team Operasional Penyelamat Aset Negara Republik Indonesia (DPP TOPAN RI) Wilayah Sumbagut bersama awak media.

​Konfirmasi tertulis yang dikirimkan melalui pesan WhatsApp ke nomor pribadinya (0821-22XX-7658) hanya menunjukkan indikasi centang dua, namun tidak mendapatkan balasan sama sekali. Bahkan, saat tim mencoba menghubungi via telepon seluler, Elsa Putra Friadi enggan mengangkat panggilan tersebut Senin, Selasa (8-9/6/2026.

​Menanggapi sikap menutup diri ini, Rahman Lubis dari Tim Operasional Penyelamat Aset Negara RI DPP TOPAN RI Wilayah Sumbagut, mengecam keras mentalitas pejabat yang dinilai tidak transparan tersebut.

"Sesuai dengan UU No. 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik (KIP), masyarakat berhak tahu ke mana aliran dana negara mengalir. Jika Kepala BPJN Sumbar, Elsa Putra Friadi, memilih bungkam dan menghindari konfirmasi LSM dan wartawan, patut kita pertanyakan: Ada apa dengan proyek tersebut? Apakah ada indikasi penyimpangan spesifikasi teknis (Spesum Bina Marga)? Kalau tidak mau dimonitor oleh masyarakat, tidak usah jadi pejabat publik! Anda digaji oleh uang rakyat, wajar jika performance dan akuntabilitas kinerja Anda dikritik tajam," tegas Rahman Lubis dengan nada meninggi.

Ratusan Miliar APBN 2024–2025: Indikasi Kegagalan Konstruksi di Lapangan

​Bukan tanpa alasan Tim Investigasi TOPAN RI dan wartawan mencecar BPJN Sumbar. Berdasarkan investigasi lapangan pada data proyek APBN Tahun Anggaran 2024–2025, ditemukan fakta bahwa anggaran preservasi dan rekonstruksi Jalan Nasional Ruas Payakumbuh – Pangkalan – Batas Riau menelan dana yang sangat fantastis, mencapai ratusan miliar rupiah.

​Namun ironisnya, kondisi eksisting di lapangan justru menunjukkan terjadinya degradasi struktural pra-waktu yang sangat parah. Jalur vital logistik Sumatera Barat – Riau tersebut hingga kini masih dipenuhi kegagalan konstruksi di sejumlah titik strategis, seperti di kawasan Sibunbun, Tanjung Balik, Ulua Aia, hingga area perbatasan Sumbar–Riau. Di lapangan, ditemukan deformasi jalan yang masif berupa potholes (lubang), rutting (alur/bergelombang), alligator cracking (retak buaya), hingga shear failure (amblas/longsoran) pada badan jalan.







[Ikuti Terus Detakindonesia.co.id Melalui Sosial Media]






Berita Lainnya...

Tulis Komentar