Parlilitan, Detak Indonesia-- Masyarakat PAPATAR (Pakkat, Parlilitan dan Tarabintang), Kabupaten Humbang Hasundutan, berharap kepada Gubernur Sumatera Utara, Bobby Afif Nasution, tidak setengah hati melaksanakan pembangunan jalan, yang menghubungkan Kecamatan Parlilitan Kabupaten Humbang Hasundutan, dengan Kecamatan Sitellu Tali Urang Julu di Kabupaten Pakpak Bharat, Provinsi Sumatera Utara
Demikian diungkapkan tokoh masyarakat Kecamatan Parlilitan, Alindah Sinaga SH yang juga selaku Ketua PERDAPATAR Sumut (Perkumpulan Masyarakat Pelestari Alam dan Budaya Parlilitan Tarabintang Sumatera Utara) kepada, Detak Indonesia melalui sambungan ponselnya Selasa (8/9/2026).
Dikatakannya, ruas jalan provinsi mulai dari Pakkat, Parlilitan hingga ke Kecamatan Sitellu Tali Urang Julu, Kabupaten Pakpak Bharat, adalah salah satu ruas jalan darat yang terdekat melintasi Delleng Simpon, menuju Sidikalang maupun menuju Medan serta daerah lainnya di Sumatera bahkan hingga ke Provinsi Nangroe Aceh Darussalam.
Namun kondisinya terabaikan dan nyaris terlupakan bahkan sejak Indonesia merdeka.
Diketahui memang jalan yang menghubungkan Dusun Batu Gajah di Desa Sionom Hudon Julu Kecamatan Parlilitan, dengan Dusun Ulu Merah Kecamatan Sitellu Tali Urang Julu Kabupaten Pakpak Bharat, cukup curam dan medannya sulit.
"Sebab harus melintasi Gunung Simpon atau bahasa daerah disebut "Delleng Simpon" yang curam dan terjal untuk sampai ke perbatasan di daerah Pakpak Bharat," sebut dia.
Namun lanjutnya, medan yang tersulit itu hanya beberapa kilo meter saja. Sebab jarak Dusun Batu Gajah ke perbatasan hanya berkisar 6 Km saja.
Tapi karena perhatian pemerintah selama ini belum pernah serius menanganinya, membuat ruas jalan itu menjadi sangat sulit dilalui. Alasan klasik dari pemerintah selama ini selalu mengatakan keterbatasan anggaran.
Alasan itupula yang mendasari ruas jalan Parlilitan menuju Pakpak Bharat, selama ini nyaris putus walau saat ini sudah bisa dilalui namun masih cukup sulit dan harus ekstra hati-hati," ungkap dia.
Lebih lanjut disebutkan, sementara dari sisi daerah Pemkab Pakpak Bharat, diketahui bahkan sudah sejak lama membangun akses jalan aspal hotmix dari Kecamatan Salak, hingga sampai ke perbatasan.
Kondisi ini ucap aktivis Pariwisata Sumut dan juga selaku pengacara itu menyebut, memaksa masyarakat PAPATAR dan masyarakat Pakpak Bharat sangat sulit bersilaturahmi.
Pada hal kedua kecamatan bertetangga itu memiliki hubungan kekeluargaan yang sangat erat. Bahkan hubungan itu sudah terjalin sejak keberadaan peradaban masyarakat di ke dua wilayah bertetangga tersebut.
"Hal itu dibuktikan dengan situs sejarah yang melegenda. Yakni adanya Kolam air bernama "Eluh Berru Tinambunan artinya, air mata Berru Tinambunan yang menangis di gunung itu. Saat Berru Tinambunan itu hendak dijodohkan dengan masyarakat dari wilayah tersebut, yang dewasa ini menjadi Kabupaten Pakpak Bharat," ungkap dia lagi.
Dikisahkannya, sesuai legenda yang beredar di tengah masyarakat khususnya Kecamatan Parlilitan menyebut air mata yang berurai itulah berubah menjadi kolam air hingga saat ini.
Kolam air itu hanya berukuran kecil tapi seberapa banyakpun diambil dari sana, namun tidak sampai kering. Satu keanehan dimana situs tersebut menjadi salah satu sumber air yang ada di Gunung Simpon persis terletak di perbatasan itu hingga saat ini.
Itulah sebabnya masyarakat dari Kabupaten Pakpak Bharat kerab berkunjung ke situs Eluh Berru Tinambunan itu.
"Bahkan "Eluh Berru Tinambunan" itu saat ini sudah menjadi objek wisata yang setiap hari semakin banyak dikunjungi, tapi umumnya masyarakat yang datang baru dari daerah Pakpak Bharat," sebut dia lagi.
Dengan pelebaran jalan yang sedang dilakukan pemerintah provinsi saat ini mulai dari titik perbatasan menuju Dusun Batu Gajah Desa Sionom Hudon Julu, Kecamatan Parlilitan, diharapkan dapat dilanjutkan hingga ke ibu kota Kecamatan Parlilitan, sampai ke Tarabintang dan juga ke Pakkat.
Sebab ruas jalan dari Parlilitan menuju Desa Hutagalung saat ini juga masih banyak titik atau lokasi jalan yang rusak parah. Misalnya mulai dari Desa Janji hingga ke Desa Sitapung.
Tepatnya menjelang jembatan Simarhilang. Ruas jalan itu begitu sulit dan butuh penanganan serius dari pemerintah provinsi.
Sebab jika hanya fokus untuk membangun jalan seputar perbatasan saja, dan mengabaikan ruas jalan yang sedang rusak, toh tidak akan menjawab persoalan yang dihadapi masyarakat.
Pantauan Detak Indonesia saat berkunjung ke daerah itu baru baru ini, ditemukan berkisar 2 Km jalan kondisi rusak parah mulai dari Desa Janji menuju jembatan Simarhilang. Demikian halnya mulai dari Sitapung hingga menuju Hutagalung dan dari Hutagalung hingga sampai ke Batu Gajah.
Masih butuh penanganan serius demikian juga kondisi parit kiri kanan jalan yang belum sepenuhnya terbangun. Anehnya, titik titik jalan yang rusak itu sudah terjadi sejak lama, namun sangat minim penanganan.
Untunglah dengan kehadiran Bupati Humbahas saat ini Oloan Paniaran Nababan, bersama timnya pada November tahun 2025 lalu, sudah melihat langsung kondisi real ruas jalan menuju perbatasan itu.
Diharapkan juga kepada Pemkab Humbahas untuk tidak kendor mengusulkan pembangunan ruas jalan menuju daerah Kabupaten Pakpak Bharat itu. Sehingga lebih lekas rampung dan terealisasi dengan kualitas yang terbaik.
Dengan demikian masyarakat PAPATAR dan masyarakat Pakpak Bharat bisa dengan mudah saling mengunjungi. Serta membuka akses baru bagi peningkatan ekonomi masyarakat dari ke dua kabupaten bertetangga itu. (nes)