Loading...
Ribuan Murid SDN SMPN di Pekanbaru Bakal Terlantar

3.000-an Guru di Riau Ancam Boikot Ujian Nasional

Di Baca : 548 Kali
Aksi unjukrasa 3.000-an guru SDN dan SMPN Pekanbaru di DPRD Pekanbaru, Senin (8/4/2019) menuntut tunjangan guru yang distop Wali Kota Pekanbaru H Firdaus MT sejak tujuh bulan terakhir. Guru mengancam tak mau mengawasi Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) pada 22-25 April 2019 mendatang. (Aznil Fajri/Detak Indonesia.co.id)

Pekanbaru, Detak Indonesia--Sebanyak 3.000-an guru Sekolah Dasar Negeri (SDN), dan guru Sekolah Menengah Pertama Negeri (SMPN) di Kota Pekanbaru Riau mengancam akan tidak mau ikut mengawasi atau memboikot Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat ini oleh Negara (Kemendiknas) pada 22 hingga 25 April 2019.

Para guru di Riau ini juga mengatakan silakan cari guru pengawas ujian pengganti, dan silakan beri nilai, koreksi nilai UNBK itu murid-murid SDN dan SMPN yang jumlahnya ratusan ribu yang bakal terlantar.

Hal ini disampaikan secara spontan oleh ribuan guru yang melancarkan aksi demo ke kantor DPRD Pekanbaru di Jalan Sudirman, Senin siang (8/4/2019). 

Guru menuntut Wali Kota Pekanbaru H Firdaus MT dari kader Partai Demokrat agar membayarkan tunjangan guru SDN dan SMPN yang dihentikan Wali Kota Firdaus ini melalui Perwakonya sejak Oktober 2018 lalu sampai April 2019 (tujuh bulan) tak terima tunjangan guru lagi. Guru-guru tersebut dapat tunjangan sekitar Rp1 juta dipotong pajak tinggallah hanya sekitar Rp800.000 dapat per bulan.

Menurut guru-guru kepada wartawan di lokasi demo siang tadi, alasan Wali Kota Firdaus menghapus tunjangan guru itu, karena guru sudah menerima dana sertifikasi guru dari Pemerintah Pusat/Nasional, ngapain lagi dikasih tunjangan double. Makanya melalui Perwako, tunjangan dihapus.

Menurut guru lagi, Menteri saja membolehkan beri tunjangan guru, kenapa Pak Wali Kota kok kejam kali menghapus tunjangan guru. Dulu saat kampanye minta dukungan, setelah duduk lupa. Padahal dana tunjangan itu sangat membantu kelancaran guru-guru dalam proses belajar-mengajar dan meningkatkan kinerja para guru.

Guru-guru juga menyorot kinerja Wali Kota Pekanbaru H Firdaus MT dari kader Demokrat ini tak becus memimpin. Selain guru, Ketua RT, RW, juga tak ada dukungan honor lagi. Lebih enak zaman Wali Kota sebelum Firdaus yakni Herman Abdullah yang peduli rakyat banyak. Begitu juga pengurus Forum Kewaspadaan Dini Masyarakat (FKDM) mengeluh tak ada dapat dukungan dana operasional lagi sejak Firdaus jadi Wali Kota padahal itu instruksi diatur Permendagri.

Kalau Firdaus ini yang dibantunya pembangunan Kantor Kejari Pekanbaru, Kantor Polresta Pekanbaru, rumah dinas Polresta Pekanbaru padahal itu bukan tanggungjawab Wali Kota Pekanbaru membangunnya. Tapi tanggungjawab instansi vertikal yakni Kejagung dan Mabes Polri. Muncul suara-suara lengserkan Firdaus. Muncul pula pembicaraan guru-guru soal isu banyak bini yang menjadi bahasan luas juga di Kota Pekanbaru. Ada isu bini  pramugari dan bini di Batam. Keluhan-keluhan suara sumbang warga Pekanbaru ini hampir rutin di dengar telinga wartawan.

Juru bicara guru-guru yang demo, Asmardi menegaskan mohon guru bersabar karena ada staf Wali Kota dalam pengurusan ke Jakarta soal dana tunjangan itu. 

Ketua DPRD Pekanbaru Sahril yang bungkam tak mau ngomong di hadapan demonstran guru-guru ini didesak bicara oleh guru-guru. Tapi Sahril tanpa sepotong katapun akhirnya pergi saja meninggalkan demonstran sambil mangut-mangut pegang dagu dan pipi.

Para guru mendesak batas akhir Kamis (11/4/2019) harus ada kejelasan pembayaran tunjungan guru tersebut. Jika tidak peduli juga,.maka 3.000-an guru akan lepas tangan tak mau mengawasi Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) SDN dan SMPN di Pekanbaru mulai 22 hingga 25 April 2019.

Di pihak lain banyak juga keluhan masyarakat Pekanbaru atas kualitas kepemimpinan Firdaus MT mantan pegawai PU tapi sejumlah ruas jalan di Kota Madani Pekanbaru banyak berlubang dan becek di kala hujan. Ada berlubang besar sebesar kubangan kerbau parah sekali di Jalan Suka Karya Kampungdalam Kecamatan Tampan Pekanbaru sudah bertahun-tahun tak diperhatikan Firdaus MT. Masuk Kota Pekanbaru jalan banyak berlubang, masuk Sumbar banyak jalan mulus, masuk Sumut juga banyak jalan berlubang, begitu gambaran banyak korupsi.(azf)



[Ikuti Terus Detakindonesia.co.id Melalui Sosial Media]






Berita Lainnya...

Tulis Komentar