AKSI PERSATUAN PEDAGANG PASAR CIK PUAN SUARA RAKYAT YANG TERABAIKAN

Ratusan Pedagang Pasar Cik Puan Demo Polda Riau, Desak Buka U-Turn

Di Baca : 12801 Kali
Ratusan bahkan barangkali ribuan pedagang Pasar Cik Puan/Pasar Sukajadi Pekanbaru demo di Mapolda Riau Senin (7/7/2025) sekira pukul 10.00 WIB mendesak agar Kapolda Riau Irjen Pol Herry Heryawan, Dirlantas Polda, Dishub Pekanbaru buka U-Turn depan Pasar Cik Puan karena berakibat turunnya transaksi jual beli hingga 50 persen. Menyengsarakan hidup pedagang! (Aznil Fajri/Detak Indonesia.co.id)

Pekanbaru, Detak Indonesia--Ratusan bahkan barangkali ribuan pedagang Pasar Cik Puan atau Pasar Sukajadi Pekanbaru, Riau, demo di Mapolda Riau di samping Mapolda Riau Jl WR Supratman Pekanbaru, Senin 7 Juli 2025 sekira pukul 10.00 WIB. Massa demonstran dilarang demo di depan Mapolda Riau Jl Pattimura Pekanbaru karena bisa menimbulkan macet lalulintas.

Menurut Koordinator Lapangan Aksi Persatuan Pedagang Pasar Cik Puan Pekanbaru Sutan Sarmuni Sikumbang dan Ketuanya Edi Sabara Manik teruntuk pemangku jabatan di negeri ini, melalui surat ini disampaikan keluh kesah seluruh pedagang Pasar Cik Puan yang di singkat dengan P3CP. Pasar Cikpuan adalah pasar ikonik di Pekanbaru, dikatakan ikonik bukan hanya karena posisinya yang strategis terletak di jantung kota Pekanbaru, melainkan juga karena pasar ini satu-satunya pasar milik Pemerintah Kota Pekanbaru yang menggunakan simbol atau bahasa Melayu.

Ada beberapa pasar tradisional moderen yang dikelola oleh Pemerintah Kota Pekanbaru melalui Disperindag Kota Pekanbaru antara lain, Pasar Palapa, Pasar Sail, Pasar Lima Puluh, Pasar Rumbai Pesisir, Pasar Rakyat Rumbai (Tengku Kasim Perkasa) Pasar Panam, dan terakhir Pasar Cik Puan.

Pasar Cik Puan yang juga dikenal sebagai Pasar Loket, adalah Pasar Tradisional di mana ratusan pedagang menggantungkan hidup di dalamnya, di dalam pasar ini juga ada buruh angkat, tukang bongkar muat, tukang parkir untuk membiayai kehidupan mereka mulai dari kehidupan sehari hari, makan, minum, bayar sewa rumah, pendidikan anak untuk sekolah, kesehatan dan berbagai kebutuhan pokok lainnya. Di belakang mereka ribuan orang menyandarkan hidup.

Namun seiring berjalannya waktu, kondisi ini mulai berubah, para pedagang, buruh angkat, bongkar muat, tukang kopek, tukang parkir mulai merasakan pahitnya kondisi ekonomi, kondisi pasar yang sering kali terkena musibah kebakaran lebih kurang tujuh kali, membuat kondisi pedagang jatuh bangun dalam menjalankan usaha dagangnya, kami terpaksa menghutang ke berbagai pihak, ada yang meminjam ke saudaranya, bagi yang punya akses ke bank pinjam uang ke bank, dan banyak akhirnya uang pinjam ke rentenir dengan kondisi terpaksa.







[Ikuti Terus Detakindonesia.co.id Melalui Sosial Media]






Berita Lainnya...

Tulis Komentar