Diusulkan menerima bantuan Program Indonesia Pintar (PIP)

Ini Kata Kepala SMAN 1 Kabanjahe Terkait Kutipan terhadap Siswinya dan Pastikan Tidak Ada Intimidasi

Di Baca : 2289 Kali
Kepala SMA Negeri 1Kabanjahe Eddyanto Bangun SPd MSi di ruang kerjanya memberikan klarifikasi terkait viralnya di medsos SMANSAKA, Rabu, (24/9/2025). (Saritua Manalu/Detak Indonesia.co.id)
 

"Mengingat pengalaman tahun pertama, kami mengetahui keadaan ekonomi keluarga EP sulit, maka salah seorang guru kita meminta kepada operator agar diusulkan di Dapodik agar menerima bantuan Program Indonesia Pintar (PIP)," terang Kepsek.

Lanjut Kepsek ini lagi, akhirnya dia mendapat PIP pada tahun 2024 sebesar 1,8jt (satu juta delapan ratus ribu rupiah) pada saat anak tersebut (Siswi EP, red) mengambil uang ke Bank BNI Kabanjahe pada bulan Agustus 2024, ternyata Bank BNI kelebihan transfer pada saat pencairan. Seharusnya dia menerima 1,8 jt (satu juta delapan ratus ribu rupiah) ternyata bank memberikan 4,5 jt (empat juta lima ratus ribu rupiah) dan ternyata anak tersebut menerima saja tanpa ada konfirmasi ke Bank atas kelebihan uang yang diterima (ini Pengakuan oleh Bank BNI).

Tak lama setelah itu Petugas Bank BNI datang ke sekolah menjumpai saya dan menceritakan kejadian tersebut, kemudian saya memanggil anak tersebut untuk mengklarifikasi kebenaran tersebut dan ditemani oleh salah seorang guru berinisial SS.

Ternyata apa yang diceritakan oleh Petugas Bank BNI ternyata benar menurut pengakuan anak tersebut ada kelebihan uang diterima masuk ke Rekeningnya seharusnya 1,8 jt masuk ke Rekening nya 4,5jt. Maka pada saat itu kami berembuk bersama Petugas Bank dan anak tersebut, serta ibu Guru SS untuk mencari jalan keluar. Nah pada saat itu saya sebagai Kepala Sekolah memberikan usul penyelesaian atas masalah tersebut," katanya.

"Saya mengatakan kepada Petugas Bank bagaimana kalau anak kami beserta keluarganya membayar Rp100.000/bulannya, mengingat anak kami sudah mengakui kesalahannya dan kita juga tahu bagaimana ekonominya sulit, lagi pula dia masih kelas X (sepuluh/kelas 1 SMA), masih ada waktu lama untuk membantunya, kata Saya. Dan akhirnya kami semua sepakat atas cara penyelesaian yang saya usulkan. Tapi tanpa sepengetahuan pihak sekolah ternyata apa yang disepakati tidak direalisasikan oleh anak kami beserta keluarga (ini menurut pengakuan pihak Bank, red)," jelasnya. 







[Ikuti Terus Detakindonesia.co.id Melalui Sosial Media]






Berita Lainnya...

Tulis Komentar