Mengancam dengan Senjata, Menakutkan Sekali

Narkoba, Penyebab Sawit Rakyat di Sumut Rentan Pencurian Terorganisir Disertai Kekerasan

Di Baca : 74 Kali
Keluhan tentang maraknya pencurian tandan buah segar (TBS) kelapa sawit masih sering terdengar di berbagai sentra perkebunan, termasuk di Sumatera Utara. Tidak hanya kebun perusahaan, petani kecil pun tak luput jadi sasaran. Pencurian bahkan ada yang dilakukan secara teorganisir dilengkapi dengan senjata. Narkoba dipercaya menjadi salah satu penyebab utama aksi ini terjadi. (Dok. Humas PTPN IV Regional III)
 

Tidak hanya meresahkan dan  sebatas merugikan petani dari segi produktivitas jangka pendek. Sebab kebun sawit masyarakat juga ikut rusak lantaran pencuri kerap memanen TBS secara serampangan.

"Dampaknya panjang. Tidak cuma rugi sekarang, sampai beberapa bulan ke depan hasil kebun kami juga terganggu karena pencuri tidak memanen sesuai standar," sambung Arman.

Selain petani sawit rakyat, masalah pencurian juga dialami kalangan korporasi. Kebun negara yang dikelola PTPN IV PalmCo di berbagai wilayah Sumatera Utara juga menghadapi persoalan serupa. Luasnya areal dan banyaknya akses masuk ke kawasan kebun sering dijadikan celah oleh pencuri untuk menggondol TBS.

Dampak perbuatan ini tidak hanya berujung pada hilangnya hasil panen. Namun juga terhadap operasional kebun, produktivitas, serta capaian target yang telah disusun Perusahaan. Dalam banyak kasus, buah yang dicuri merupakan tandan matang yang memiliki nilai ekonomi tinggi.

Bagi para pekerja lapangan, pencurian sawit juga menciptakan tekanan tersendiri. Mereka terpaksa harus mengeluarkan keringat lebih demi mencapai target. Sebab, ketersediaan TBS matang di lapangan berkurang akibat pencurian.

"Sering kali kami datang ke blok yang seharusnya siap dipanen, tetapi sebagian buah sudah tidak ada. Akibatnya target panen sulit tercapai," kata Zulfikar (38), seorang pemanen sawit di kebun unit usaha PTPN IV Regional 2.







[Ikuti Terus Detakindonesia.co.id Melalui Sosial Media]






Berita Lainnya...

Tulis Komentar