EMAK-EMAK BERSYUKUR PEMERINTAH LARANG EKSPOR MINYAK GORENG DAN CPO

Larangan Ekspor Minyak Goreng dan CPO Indonesia Guncang Perusahaan Global

Di Baca : 1907 Kali
Kelapa sawit dan salah satu produk turunannya minyak goreng. (ist)

India sebagai importir minyak sawit, kedelai, dan bunga matahari terbesar di dunia, diperkirakan akan menghadapi lonjakan inflasi lebih lanjut. Harga domestik minyak nabati di New Delhi udah melonjak antara 12-17 persen sejak perang di Ukraina meletus pada akhir Februari 2022.

Langkah Indonesia akan menekan biaya dan margin beberapa perusahaan konsumen, kata perusahaan jasa keuangan Prabhudas Lilladher. Hindustan Unilever, Nestle India, dan ITC Ltd akan terkena dampak langsung, dan dampaknya akan paling terasa pada biskuit, mie, kue, keripik kentang, dan makanan penutup beku. 

“Jika larangan ini diterapkan secara serius, inflasi bisa sangat tinggi,” kata Atul Chaturvedi, president of the Solvent Extractors’ Association of India. 

Permintaan mungkin akan bergeser, tetapi ketersediaan minyak nabati lainnya juga terbatas. Di samping itu, larangan ekspor Indonesia juga menambah tantangan bagi pemerintah China yang ingin menjaga inflasi tetap terkendali. Sementara inflasi konsumen tetap relatif terkendali, risiko meningkat karena melonjaknya harga komoditas dan gangguan rantai pasokan terkait Covid. 

China merupakan importir besar minyak goreng Indonesia. China membeli 4,7 juta ton minyak sawit dari negara Asia Tenggara tahun 2021 lalu, menyumbang lebih dari 70 persen dari total impor. Namun, pembelian China telah merosot tahun 2022 ini karena harga yang lebih tinggi dan karena lockdown yang ketat merusak permintaan. (*/di)







[Ikuti Terus Detakindonesia.co.id Melalui Sosial Media]






Berita Lainnya...

Tulis Komentar