Proyek Payung Elektrik Rp42 M, Biaya Ini Sangat Besar dibanding Tempat Lain
Dirinya sangat menyayangkan rusaknya payung elektrik tersebut padahal belum sempat digunakan. Mardianto menilai ini adalah suatu kecerobohan dan bukanlah suatu kecelakaan atau musibah.
"Memang terjadi bencana alam (hujan deras dan angin kencang, red) tapi saya melihat dari proses tender dari awal dilakukan, itu seharusnya tahun anggarannya 2022. Akhir Desember 2022 ditutup, tapi karena belum selesai terlepas apapun alasannya, sengaja atau tidak sengaja, ceroboh atau tidak ceroboh, profesional atau tidak profesional akhirnya diperpanjang satu kali perpanjangan," ucapnya.
Usai perpanjangan pertama, proyek pemasangan tak kunjung selesai sehingga dilanjutkan dengan perpanjangan kedua dan perpanjangan terakhir hingga 28 Maret 2023.
"Kalau terjadi angin yang kencang pada masa tiga hari mau serah terima pekerjaan, saya ragukan kualitas konstruksi dari alat yang akan dibangun tadi, apakah payungnya atau besinya. Saya rasa ini perlu dikaji tim independen, tak bisa diserahkan pada Dinas PUPR yang mengerjakan. Dia akan mungkin berpihak ke situ karena bagaimanapun antara tender dan pemenang tender atau pemberi jasa itu diduga ada "main mata". Jadi serahkan pada tim independen yang ahli konstruksi dan ahli pengadaan barang dan jasa pada pengadaan ini," bebernya Mardianto.
Tulis Komentar