Akibat Bencana Hidrometeorologi di Sumatra Utara

Helikopter BNPB Mendarat di Tepi Sungai Demi Antar Bantuan Warga Terisolasi

Di Baca : 1454 Kali
Helikopter BNPB dengan nomor registrasi PK-RTQ mendarat di tepi sungai demi antarkan bantuan warga yang terisolir akibat bencana hidrometeorologi di Desa Sihaporas, Kecamatan Pinangsori, Kabupaten Tapanuli Tengah, Sumatra Utara, Sabtu (29/11/2205). (Dok. BNPB)
 

Dengan manuver presisi yang berisiko, PK-RTQ akhirnya berhasil lolos, dan di bawah mereka terhampar Desa Sihaporas, terperangkap dalam keheningan hijau.

Momen Kritis di Tepi Aek Sihaporas

Tantangan pendaratan menjadi fase paling kritis. Di Sihaporas, tidak ada helipad yang memadai. Opsi menggunakan lapangan terbuka (seperti lapangan sekolah) ditolak keras, sebab pilot tahu, downwash dari baling-baling raksasa bisa merobohkan atap rumah warga, sebuah ironi yang harus dihindari dalam misi bantuan.

Helikopter berputar, berulang kali, di ambang batas waktu aman pendaratan. Pilihan untuk kembali ke pangkalan mulai membayangi. Hingga akhirnya, di tengah keharusan mengambil keputusan cepat, mata pilot menangkap satu titik ganjil: sebidang kerikil basah yang membentang di tepi Aek Sihaporas (sungai setempat).

Itu adalah keputusan operasional di ujung tanduk; sebuah prosedur pendaratan non-standar yang belum pernah dilakukan di medan nyata. Komunikasi di kokpit terjalin singkat, namun menentukan:

“Pernah dilatih pendaratan di tepi air?" tanya pilot senior, dengan nada profesional yang tenang.
"Siap, Capt. Prosedur dilatih dan berhasil. Kami siap."
"Oke good. Mari turunkan perlahan, di kerikil basah itu.”







[Ikuti Terus Detakindonesia.co.id Melalui Sosial Media]






Berita Lainnya...

Tulis Komentar