Kekecewaan yang Berlarut di Ijen: Kala Kebun Kopi Negara Rusak, Rasa Aman Pekerja Ikut Tercabut
Dalam tuntutannya, SPBUN NXII meminta Bupati Bondowoso mengambil peran aktif memimpin penegakan hukum yang tegas dan adil. Mereka juga mendorong pembentukan tim investigasi independen untuk mengusut tuntas perusakan kebun, intimidasi, dan ancaman yang terjadi tanpa intervensi kepentingan apa pun.
“Ini bukan soal membela perusahaan semata,” kata Bramantyo. “Ini soal keberlanjutan kerja ribuan keluarga dan wibawa hukum negara.”
Drama Sosial di Balik Hamparan Kopi
Di balik hijau kebun kopi Ijen, drama sosial itu berlangsung senyap. Rumah-rumah dinas yang rusak, jalan kebun yang dipalang, dan rasa waswas yang mengendap di benak pekerja menjadi keseharian baru. Konflik yang dibiarkan membeku tidak hanya merusak tanaman, tetapi juga merapuhkan tatanan sosial di komunitas perkebunan.
Bagi para pekerja, aksi damai ini adalah seruan terakhir agar negara hadir. Mereka tidak menuntut keistimewaan, melainkan kepastian: bahwa hukum ditegakkan, keamanan dijamin, dan mereka bisa kembali bekerja dengan martabat.
“Yang kami minta sederhana,” ujar seorang pekerja perempuan sambil menggendong anaknya di sela aksi. “Kami ingin kebun ini kembali aman. Supaya suami kami pulang kerja tanpa rasa takut, dan anak-anak kami punya masa depan.”
Di Ijen, kopi memang tumbuh dari tanah vulkanik yang subur. Namun, tanpa kehadiran negara dan kepastian hukum, yang tumbuh hari ini justru kekecewaan—dan luka sosial yang kian dalam. (tim)
Tulis Komentar