Kekecewaan yang Berlarut di Ijen: Kala Kebun Kopi Negara Rusak, Rasa Aman Pekerja Ikut Tercabut
Angka itu bukan sekadar statistik. Bagi pekerja kebun, setiap pohon kopi yang ditebang berarti berkurangnya jam kerja, ancaman terhadap keberlanjutan produksi, dan pada akhirnya, ketidakpastian pendapatan. Di kawasan Ijen–Blawan, satu keluarga bisa bergantung sepenuhnya pada siklus panen kopi yang berlangsung setahun sekali.
Situasi memburuk sepanjang 2025. Setelah sempat mereda, aksi perusakan kembali terjadi dengan skala lebih masif dan terorganisir. Puluhan ribu pohon kopi ditebang dalam rentang Oktober hingga Desember 2025. Akses menuju sejumlah afdeling ditutup dengan portal kayu, posko-posko ilegal bermunculan, dan mobilitas pekerja semakin terbatas.
“Berangkat kerja sekarang bukan hanya soal target produksi, tapi juga rasa takut,” ujar seorang pekerja yang ikut aksi, enggan disebutkan namanya. Ia mengaku istrinya kerap cemas setiap kali ia berangkat pagi-pagi ke kebun. “Anak-anak kami ikut merasakan. Mereka mendengar cerita ancaman, perusakan rumah dinas. Ini sudah jadi trauma kolektif.”
Konflik Agraria yang Membeku
Kawasan Java Coffee Estate dan Blawan bukan wilayah sembarangan. Selain menjadi tulang punggung ekonomi lokal, kawasan ini juga masuk dalam ekosistem kopi Ijen-Raung yang dikenal secara internasional. Kopi arabika dari wilayah ini diekspor dan menjadi bagian dari reputasi kopi Indonesia di pasar dunia.
Namun, konflik agraria yang berlarut-larut membuat potensi itu tergerus. Pekerja menilai negara absen dalam memastikan penegakan hukum atas lahan Hak Guna Usaha (HGU) yang dikelola PTPN. Padahal, menurut mereka, konflik telah menjurus pada perusakan aset negara dan ancaman nyata terhadap keselamatan warga.

Tulis Komentar