Dua Orangtua Murid SDN 181 Pekanbaru Pingsan di Ruang Badan Musyawarah DPRD Pekanbaru
“Saya merasa tidak ada keadilan. Anak saya dipukul di kepala menggunakan tangkai sapu, bukan sekali. Bahkan beberapa siswa lain juga mengalami hal serupa. Ini bukan cara mendidik,” ungkap Juliana kepada wartawan.
Menurutnya, dugaan kekerasan tersebut telah berlangsung sejak lama dan melibatkan oknum guru Damsir. Ia menyebut sejumlah nama siswa lain yang diduga turut menjadi korban, di antaranya Jonatan Fernandes, Dwiego Dirgantara, dan beberapa siswa lainnya yang mengalami tekanan hingga menangis di kelas.
Juliana juga menyoroti adanya pertemuan dengan pihak sekolah yang dinilai tidak transparan.
“Kami dilarang mendokumentasikan dan mempublikasikan hasil pertemuan, bahkan diminta menandatangani pernyataan. Kami merasa ditekan,” tambahnya.
Ia mengaku telah menyampaikan persoalan ini hingga ke DPRD Kota Pekanbaru dan Dinas Pendidikan, namun hingga kini belum melihat penyelesaian konkret. Dalam pernyataannya, Juliana juga membantah label “hiperaktif” yang disebutkan pihak sekolah terhadap anaknya.
Kesaksian serupa disampaikan Rafni Delmisusanti, orang tua Jonatan Fernandes. Ia mengaku terpukul setelah mengetahui anaknya diduga mengalami kekerasan fisik di sekolah.
Tulis Komentar