fantastis proyek senilai ± Rp122 Miliar kini menjadi sorotan tajam

Mantan Kabid Cipta Karya PUPR Dumai Yomi Harus Tanggungjawab Atas Retak-tetak Gedung GOR Poprov

Di Baca : 117 Kali
Proyek fantastis Rp122 miliar gedung GOR Porprov Dumai tahun anggaran 2025 retak-retak, mantan Kabid Cipta Karya PUPR Dumai Yomi diminta bertanggungjawab. (tsi)

Pekanbaru, Detak Indonesia--
Mega Proyek Porprov Dumai Rp 122 Miliar Amblas dan Retak Pejabat Bungkam Beri Alasan Konyol DPP TOPAN RI Seret Kejati Riau dan Kejagung

Pekanbaru, Detak Indonesia-- Pembangunan Kawasan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) di Kota Dumai Riau yang menelan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) fantastis senilai ± Rp122 Miliar kini menjadi sorotan tajam. Proyek raksasa yang seharusnya menjadi kebanggaan infrastruktur daerah ini justru memamerkan bobroknya mutu konstruksi di lapangan.

Bangunan yang masih seumur jagung di atas tanah gambut itu sudah menunjukkan gejala construction defect parah berupa retak-retak struktural, kerusakan finishing, hingga permukaan tanah yang amblas.

​Merespons temuan indikasi kegagalan konstruksi ini, Lembaga Monitoring Team Operasional Penyelamat Aset Negara Republik Indonesia (DPP TOPAN RI) Wilayah Sumbagut mencium adanya aroma penyimpangan spesifikasi teknis dan potensi kerugian negara yang masif.

​Rahman Lubis, perwakilan DPP TOPAN RI, telah melayangkan 29 poin konfirmasi teknis tingkat tinggi kepada Kepala Dinas Pertanahan dan Penataan Ruang serta Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Bidang Cipta Karya Kota Dumai. Pertanyaan tajam tersebut menguliti aspek fundamental rekayasa sipil (Civil Engineering), mulai dari bearing capacity (daya dukung tanah), subgrade failure (kegagalan pemadatan tanah dasar), differential settlement (penurunan tak seragam), hingga mutu beton compressive strength (Fc') dan evaluasi Non Conformance Report (NCR) dari Konsultan Manajemen Konstruksi (MK) yang dibayar hingga Rp800 juta namun terkesan "tutup mata".

Akrobat Pejabat Publik: Bungkam dan Berlindung di Balik Alasan "Manusiawi"

​Bukannya memberikan klarifikasi berbasis data teknis seperti hasil California Bearing Ratio (CBR) atau soil investigation, para pejabat terkait justru menunjukkan sikap alergi kritik dan melontarkan argumentasi yang mencederai akal sehat publik.







[Ikuti Terus Detakindonesia.co.id Melalui Sosial Media]






Berita Lainnya...

Tulis Komentar