PKS Dikelola Sesuai Aturan

PT MASG Sejahterakan Masyarakat Tempatan

Di Baca : 3068 Kali
Foto istimewa

Peranap, Detak Indonesia--Ratusan tenaga kerja tempatan asal Desa Semelinang Darat, Gumanti dan Kelurahan Peranap, Kecamatan Peranap, Indragiri Hulu Provinsi Riau setiap hari kerja aktif bekerja di Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PT Mustika Agung Sawit Gemilang (PT MASG).

Pengelolaan perkebunan kelapa sawit berkelanjutan baik melalui usaha Pabrik Kelapa Sawit (PKS) di Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Riau setiap hari memberikan keserasian dan kesamaan pandangan serta langkah-langkah seluruh pihak.

Kantor PT Mustika Agung Sawit Gemilang (PT MASG)

Ratusan tenaga kerja tempatan tiap hari kerja terlihat bekerja di Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PT Mustika Agung Sawit Gemilang (PT MASG) di Desa Semelinang Darat, Gumanti dan Kelurahan Peranap. Para pekerja pada sektor bongkar muat serasi dengan sejumlah Ram/Peron (tempat penanmpungan sementara tandan buah segar sawit) setara agen penampung/pembeli sawit masyarakat bekerjasama dengan warga yang memiliki kebun sawit sehingga nampak pengelolaan perkebunan sawit dapat lebih efisiensi dalam pengelolaannya sehingga sumberdaya yang ada diperusahaan pun dapat dinikmati oleh masyarakat tempatan.

Penerapan usaha PKS milik PT MASG yang beroperasi di Desa Semelinang Darat Kecamatan Peranap, Inhu, Riau, membawa berkah bagi warga Desa Semelinang Darat, Kelurahan Peranap dan Desa Gumanti umumnya masyarakat Kecamatan Peranap. Selain membuka laoangan kerja dapat disesuaikan dengan kekhasan dan prioritas sesuai daerah setempat untuk mensejahterakan masyarakat, sepanjang tetap memperhatikan keseimbangan antara fungsi ekologis dan nilai ekonominya.

“Kita dari Pemerintah Kecamatan Peranap mengucapkan terima kasih terhadap pihak PT MASG yang ikut serta berperan mengubah dan meningkatkan pendapatan masyarakat dari sektor naiknya harga TBS,” kata Umar SSos, Camat Peranap dalam bincang-bincangnya di ruang kerjanya, Rabu lalu (22/1/2020).

Sepengetahuan Umar, perusahaan tidak dikendalikan oleh pihak lain soal harga sawit, perusahaan masih komit mensejahterakan ekonomi warga dan banyak merekrut tenaga kerja warga tempatan di PKS PT MASG. Camat Umar tidak meragukan keberadaan perusahaan itu, PKS PT MASG yang berlokasi di Desa Semelinang Darat yang juga masuk wilayah Desa Gumanti, Kecamatan Peranap, Inhu, Riau sebutnya masih mengikuti peraturan.

Di tempat terpisah, Pj Kades Semelinang Darat, Suhardiman SSos menjelaskan tentang keberadaan PT MASG membawa keberuntungan buat warga Semelinang Darat.

“Perusahaan itu terbilang baru tapi mampu mendongkrak harga sawit hingga mencapai Rp1.960 per kg, dibanding dengan harga di sejumlah agen jauh di bawah harga beli PT MASG,” sebutnya.

“Kami Pemerintahan Desa Semelinang Darat maupun Desa Gumanti Kecamatan Peranap tidak pernah mempermasalahkan mana tapal batas antara dua desa, semua berdasarkan hasil kesepakatan para tetua desa, Pemerintah Kecamatan dan Pemerintah Kabupaten,” tambah Suhardiman.

Sedangkan Pj Kades Gumanti Musliati melalui Sekdesnya, Suryanto mengakui sebahagian besar warga menggantungkan hidupnya terhadap perusahaan PT MASG, ada warga Gumanti yang bekerja di perusahaan dan ada yang menjadi anggota bongkar muat. Menurutnya, kalau masalah tapal batas antara Desa Semelinang Darat dengan Desa Gumanti memang masih belum ada kesepakatan yang mutlak, meski Desa Semelinang Darat itu merupakan pemekaran dari Desa Gumanti, namun itu tidak pernah dipermasalahkan, dan itu menjadi kewenangan Pemerintah Kecamatan dan Pemerintah Kabupaten Inhu.

Sementara Juru bicara PT MASG, Zulkifli Panjaitan SSos MM mengatakan, perusahaan tujuannya selain berbisnis juga tidak mengenyampingkan perekonomian masyarakat tempatan. Artinya dengan mendongkrak pendapatan masyarakat tempatan berimbas kepada pertumbuhan kelanjutan perusahaan untuk berusaha.

Menurutnya, perusahaan MASG sebelumnya telah melalui perencanaan dan pengelolaan perkebunan sawit secara berkelanjutan. Perusahaan yang bergerak di bidang pengolahan kelapa sawit ini mengubah tatanan ekosistem perekonomian masyarakat tempatan. 

“Sekarang ada sekitar 80 persen pekerja tempatan dari jumlah 150 pekerja, sedangkan pekerja bongkar muat Tandan Buah Segar (TBS) mencapai ratusan pekerja di luar sistem internal perusahaan. Jadi banyak Kepala Keluarga (KK) yang menggantungkan nasibnya di perusahaan ini,” tambah Zulkfili.

Selain berpotensi memberikan manfaat ekonomi masyarakat, perusahaan tetap memperhatikan kelestarian lingkungan baik limbah cair dari pengolahan kelapa sawit berupa penempatan kolam yang disediakan. Proses pengelolaan limbah, jelas Zulkifli dilakukan setelah adanya proses sebagaimana aturan dan petunjuk dari pihak LHK. Begitupun asap boiler PKS diupayakan tidak mengepul yang dikeluarkan dari cerobong boiler, melainkan perusahaan menggunakan cara canggih agar asap tidak mengepul dari cerobong, antara lain pembakaran janjangan kosong (Jankos) yang lebih dulu diproses penghancurannya baru dibakar. (*/di)



[Ikuti Terus Detakindonesia.co.id Melalui Sosial Media]






Berita Lainnya...

Tulis Komentar