Bertahun-tahun Dibawa Diam Aparat Penegak Hukum dan Pejabat Pasaman Barat

Pasaman Barat Sumbar, Jadi Sarang Mafia PETI !

Di Baca : 4535 Kali
Gawat Tambang Emas di wilayah Pasaman Barat, Provinsi Sumatera Barat, saat ini ada di enam kecamatan, yaitu Kecamatan Talamau, Gunung Tuleh, Sungai Aur, Koto Balingka dan Ranah Batahan, Polsek, Polres dapat upeti. Warga sebut toke PETI N Lubis. (tim)

Gawat Tambang Emas di wilayah Pasaman Barat, Provinsi Sumatera Barat, saat ini ada di enam kecamatan, yaitu Kecamatan Talamau, Gunung Tuleh, Sungai Aur, Koto Balingka dan Ranah Batahan, Polsek, Polres dapat upeti. Warga sebut toke PETI N Lubis.

Pasaman Barat, Detak Indonesia--
Aktivitas penambangan emas tanpa izin (PETI) di wilayah Kabupaten Pasaman Barat Sumbar kian hari makin brutal dan tak terkendali. Tambang emas ilegal ini justeru meninggalkan kerusakan lingkungan yang masif, memicu konflik sosial, merusak infrastruktur, memporakporandakan DAS sungai dengan alat berat ekskavator dan bahkan mengancam keselamatan jiwa warga.

Investigasi di lapangan mengungkapkan sejumlah tambang PETI saat ini ada di enam kecamatan, titik-titik dari aktivitas, di daerah Talamau, Gunung Tuleh, Sungai Aur, Koto Balingka, dan Ranah Batahan.

Pasaman Barat bertahun-tahun menjadi sarang mafia tambang ilegal. Aparat penegak hukum diam, pejabat tahu, tapi tidak bertindak. Malah ada yang ikut "bermain". Dengan alat berat jenis ekskavator, para penambang dengan leluasa mengoyak aliran sungai menggunduli hutan lindung, mencemari sungai dan merusak alam.

Sumatera Barat mengabaikan semua aturan hukum yang berlaku. Hutan yang dahulu rimbun kini berubah menjadi lahan tandus dan kolam-kolam raksasa rusak parah di batang Tombang yang penuh lumpur beracun mercuri 30 Oktober 2025.

“Kami hidup dalam ketakutan. Setiap siang malam suara mesin ekskavator menderu mengoyak keheningan hutan. Setiap yang mau menambang PETI ada istilah masukkan satu ekskavator sama dengan satu payuang bayar Rp60 juta per bulan kepada oknum aparat biar aman tidak ditangkap. Sungai tempat kami mandi dan mencari ikan kini berubah warna, bau, dan dipenuhi limbah berbahaya. Ada sekitar 11 titik PETI di Pasaman Barat ini,” ujar tokoh masyarakat.







[Ikuti Terus Detakindonesia.co.id Melalui Sosial Media]






Berita Lainnya...

Tulis Komentar