GMNI Galang Dana Bencana Sumatera, Peringati Hari Ibu Nasional dan Refleksi Akhir Tahun 2025
Kegiatan ini semakin diperkuat dengan hadirnya para Sarinah pelopor sebagai wujud nyata sinergitas dan pengingat perempuan sebagai pemersatu bangsa. Adapun tokoh-tokoh yang hadir antara lain Tiarma Simanjuntak SH, selaku Kepala Bidang Kesarinahan DPC GMNI Jakarta Timur Provinsi DKI Jakarta; Nova Eliza selaku Kepala Bidang Kesarinahan DPC GMNI Depok Provinsi Jawa Barat; Yohana Acelina Bureni selaku Kepala Bidang Kesarinahan DPC GMNI Kupang Provinsi Nusa Tenggara Timur; Rahmania Benamen selaku Kepala Bidang Komunikasi Antar Lembaga DPC GMNI Mimika Provinsi Papua Tengah; Mahfuzoh selaku Kepala Bidang Kesarinahan DPC GMNI Pekanbaru Provinsi Riau; Juniar Amalia Saputri selaku Wakil Kepala Bidang Kesarinahan DPC GMNI Tangerang Selatan Provinsi Banten; Siska Simanjuntak dari DPC GMNI Tapanuli Utara Provinsi Sumatera Utara; Deana Sari dari DPC GMNI Surakarta Provinsi Jawa Tengah; serta Nadila Eka Anggini dari DPC GMNI Surabaya Raya Provinsi Jawa Timur.
Suasana diskusi kian menghangat dan sarat refleksi ketika Sarinah Tiarma menyampaikan opening speech mewakili sarinah se-Indonesia. Dengan tutur yang tenang menyampaikan pesan pentingnya kehadiran jiwa keibuan sebagai kekuatan moral gerakan menjadi pengingat, penuntun sekaligus perekat persatuan GMNI agar tetap utuh dalam satu cita dan arah perjuangan.
Kemudian banyak sekali bung-bung mengira bahwa sarinah menjadi pelengkap sejarah. Padahal sarinah sebaik dan sepatutnya sebagai subjek politik yang sadar, terdidik dan berdaya memimpin perubahan sosial demi pembebasan kaum Marhaen. Sarinah dipanggil untuk bahu-membahu, saling menguatkan dan dengan kasih perjuangan mengingatkan para bung-bung agar darah ideologi Marhaenisme tetap mengalir jernih dalam setiap langkah pengabdian.
Dilandasi rasa keibuan dan tanggung jawab sejarah, GMNI berupaya merumuskan Dokumen Konsepsi Road Map Feminisme Pancasila menuju Indonesia Emas 2045 yang selaras dengan Asta Cita. Tiarma menegaskan bahwa persoalan perempuan adalah denyut utama revolusi sosial karena itu kader Sarinah dituntut tampil sebagai pelopor berani memimpin, setia merawat persatuan.
Sebagai landasan teoritik dan ideologis diskusi, menghadirkan Keynote Speaker Ibu Eva Kusuma Sundari dari Institut Sarinah Indonesia. Beliau menegaskan bahwa Feminisme Pancasila merupakan gerakan keadilan gender khas Indonesia yang tumbuh dari rahim nilai-nilai luhur bangsa serta jejak panjang kepemimpinan perempuan dalam sejarah Nusantara.
Tulis Komentar