GMNI Galang Dana Bencana Sumatera, Peringati Hari Ibu Nasional dan Refleksi Akhir Tahun 2025
Rangkaian acara berlanjut pada Sesi Panel Diskusi II, yang dimoderatori oleh Andi Tenry Azzah selaku Duta Potensi Pemuda Indonesia Jakarta 2025 sekaligus mahasiswa Universitas Indonesia. Sesi ini diarahkan sebagai ruang dialog multidisipliner yang mengaitkan perspektif kedokteran, kesehatan mental dan sosiologi dalam konteks feminisme Pancasila. Diskusi menekankan pentingnya pemahaman holistik terhadap kesejahteraan fisik dan psikologis perempuan, serta dampak struktur sosial dan budaya terhadap kesehatan mental, peran keluarga dan dinamika komunitas. Peserta diajak untuk menganalisis bagaimana intervensi sosial, pendidikan dan kebijakan kesehatan dapat memberdayakan perempuan, memperkuat kapasitas sosial mereka dan menciptakan lingkungan yang inklusif serta mendukung keadilan sosial.
Pada sesi II ini Prof Dr dr Margarita Maria Maramis, Guru Besar Psikiatri Universitas Airlangga Provinsi Jawa Timur, yang memaparkan secara mendalam perspektif kesehatan, khususnya kesehatan mental perempuan Marhaen sebagai hak dasar. Beliau menekankan bahwa kesehatan mental merupakan fondasi utama bagi kualitas hidup yang sejahtera dan produktif.
Perempuan Marhaen kerap menghadapi tekanan psikologis yang kompleks akibat beban ganda, keterbatasan ekonomi serta stigma sosial yang membatasi aktualisasi diri. Kesehatan mental menjadi kondisi individu dan hak dasar yang harus dilindungi dan didukung melalui keadilan sosial, kebijakan yang responsif dan sistem pendukung komunitas yang inklusif.
Pemberdayaan perempuan dapat diwujudkan melalui penguatan ekonomi dan melalui perhatian terhadap kesejahteraan emosional dan psikologis. Dengan menjaga kesehatan mental, perempuan mampu menjadi agen perubahan yang tangguh, berdaya dan berkontribusi signifikan dalam keluarga maupun masyarakat secara lebih luas.
Melengkapi rangkaian diskusi sesi II, Ibu Agnes Sri Poerbasari dari Dewan Ideologi DPP Persatuan Alumni GMNI hadir memberikan perspektif sosiologis terkait peran perempuan dalam masyarakat. Beliau mengajak perempuan terdidik untuk berjuang secara kolektif dalam membangun masyarakat yang bebas dari penindasan selaras dengan amanat UUD 1945 dan nilai-nilai Pancasila. Perempuan berperan sebagai pelopor perubahan sosial yang kritis dan konstruktif.
Tulis Komentar