SEJAK DIBERLAKUKAN 2017 LALU

Peremajaan Sawit Rakyat Hingga 2020 Tak Capai Target

Di Baca : 8834 Kali
Kebun sawit tua yang tak produktif lagi di Kecamatan Tapung Kampar Riau di sela-sela ditanam bibit sawit model underplanting yang tak sesuai petunjuk teknis. (Aznil Fajri/Detak Indonesia.co.id)

Dua faktor di atas, lanjut Fadhil, membuat industri sawit mengalami perlambatan. Sejak pandemi covid-19, produksi sawit tidak terganggu. Alasannya, industri minyak sawit di Indonesia termasuk dalam kategori essential economic activities. Sehingga, meski dalam masa pandemi, masih terus dibutuhkan masyarakat. Fenomena ini berbeda dengan Malaysia yang industri sawitnya terdampak Covid-19.

Selain produksi berjalan relatif normal, ekspor sawit ke sejumlah pasar tradisional juga berjalan cukup baik. Fadhil mengakui terjadi penurunan permintaan sawit di beberapa negara, yakni China, India dan Pakistan.

Pengurangan permintaan dari China disebabkan karena negara itu menerapkan karantina wilayah sehingga sulit mendapatkan akses pelabuhan. Sedangkan India dan Pakistan lebih disebabkan karena harga minyak sawit tidak kompetitif. 

"India juga menerapkan aturan impor baru yang menghambat ekspor minyak sawit," jelasnya.







[Ikuti Terus Detakindonesia.co.id Melalui Sosial Media]






Berita Lainnya...

Tulis Komentar