Loading...
Kebun Inti dan Plasma Tak Produktif Lagi

PTPN V Riau Hadapi Masalah Besar

Di Baca : 580 Kali
Perusahaan Terbatas Perkebunan Negara V (PTPN V) Riau kini memikul masalah besar, 19 lokasi kebun sawitnya yang tersebar di sejumlah kabupaten/kota di Riau, kebun inti dan plasmanya tak produktif lagi karena pohon sawitnya sudah tua. Sebagian besar petani plasmanya tak mau lagi bermitra dengan PTPN V karena selama ini merasa dirugikan dan tak ada pembinaan. Untuk memenuhi pasokan TBS di PKSnya sejumlah TBS dari luar masuk ke pabrik antara lain di PKS Sei Pagar. (Aznil Fajri/Detak Indonesia.co.id)

(Bagian ke 1)

Sei Pagar, Detak Indonesia--Perusahaan Terbatas Perkebunan Negara V (PTPN V) Riau, saat ini tahun 2019 sedang mengalami masalah besar.

Sebanyak 19 lokasi kebun sawitnya yang tersebar di beberapa kabupaten di Provinsi Riau, tanaman sawitnya tak produktif lagi tak menghasilkan buah alias sudah tua berusia di atas 30 tahun. 

Baik kebun PIR Trans dan kebun plasmanya yang mencapai ratusan ribu hektare luasnya, kini tak menghasilkan buah secara normal. Dan untuk memenuhi pasokan tandan buah segar (TBS) sawit untuk 12 Pabrik Kelapa Sawit (PKS) PTPN V ini, maka dipasok dari luar kebun resmi milik PTPN V.

Hasil liputan dan investigasi lapangan Detak Indonesia selama lima bulan terakhir ini di beberapa lokasi kabupaten di Riau sejak awal 2019 lalu di sejumlah lokasi kebun PIR Trans dan eks plasma PTPN V Riau, jutaan batang pohon kelapa sawit tua nampak sebagian masih tegak berdiri tinggal tunggul pucuk pohon kelapa sawit mati merana. Di pihak lain pohon tua kelapa sawit sebagian masih ada yang hidup dan patah leher. Tapi buah tak ada lagi. Kebun inti milik BUMN ini sebagian sudah diremajakan sudah mulai buah pasir subur, tapi yang paling parah kebun plasma milik petani eks mitra PTPN V kini tak kunjung diremajakan (replanting) padahal sudah berusiah 30 tahun lebih ditanam sejak Pemerintahan Orde Baru dulu. Sedih dan memang merana nasib eks petani plasma PTPN V. 

Kini sebagian petani plasma PTPN V tak mau lagi bermitra dengan PTPN V karena selama ini petani mengaku tak ada pembinaan yang signifikan dari PTPN V yang kini sudah menjadi holding PTPN III yang berkantor di Jalan Sunggal, Medan, Sumatera Utara.

Salah satu sampling untuk mendalami permasalahan di kebun plasma PTPN V Riau ini adalah di Kebun Sei Pagar Kecamatan Perhentian Raja Kabupaten Kampar Riau.

Sabtu (29/6/2019), ada 134 kapling (268 hektare) milik 18 kelompok tani KUD Mekar Sejahtera Desa Hang Tuah Desa Perhentian Raja Kabupaten Kampar, Riau yang mengajukan replanting dan dibantu administrasinya oleh pihak PTPN V sebagaimana diakui oleh Manajer Plasma PTPN V Riau Ludi Harahap, Minggu (30/6/2019).

KUD Mekar Sejahtera dan poktannya ada 18 poktan di Sei Pagar di bawah binaan Ketua APKASINDO Riau Gulat Manurung sebagian lahan plasmanya sudah replanting tapi sisanya 80 hektare belum ditanam sampai sekarang sementara uang replanting sudah dicairkan pihak Pemerintah melalui dana Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) adalah untuk peremajaan (replanting) perkebunan kelapa sawit. Hal tersebut diatur dalam Peraturan Presiden No. 61/Tahun 2015 tentang Penghimpunan dan Pengelolaan Dana Perkebunan Kelapa Sawit. Tapi sekitar 80 hektare dana yang sudah cair tadi (sekitar Rp2 miliar) uangnya belum digunakan untuk replanting sampai saat ini. Kadisbun Kampar Riau, Bustan yang mengetahui masalah ini saat dikonfirmasi via whatsappnya tak memberi komentar. Konfirmasi yang dikirim cuma dibaca saja tapi tak dijawab. Namun Manajer Plasma PTPN V Riau Ludi Harahap menyarankan hubungi Ketua KUD Mekar Sejahtera Tamar.
 
Ketua KUD Mekar Sejahtera yang berkantor di Desa Hang Tuah Sei Pagar Kecamatan Perhentian Raja, Kabupaten Kampar Riau yang dikonfirmasi bungkam seribu bahasa. Ketua APKASINDO Riau Gulat Manurung sebagai pembina koperasi saat dikonfirmasi via whatsapp tak bersedia beri komentar. "Silakan datang ke kantor aja," jawabnya singkat.

Dan kini karena terbatasnya produksi dari kebun inti dan plasma karena tanaman sudah tua tak berbuah normal lagi, pasokan tandan buah segar (TBS) kelapa sawit ke salah satu PKS milik PTPN V Riau, antara lain PKS PTPN V Kebun Sei Pagar Kecamatan Perhentian Raja Kabupaten Kampar Riau dipertanyakan dan banyak disorot. Bahkan jadi perbincangan di kalangan masyarakat, pemerhati dan kontraktor PTPN V.

Pasalnya, saat ini 8.000-an hektare kebun PIR Trans dan 6.000 an hektare kebun plasma PTPN V Sei Pagar tak produktif lagi. Tapi pasokan buahnya ke PKS lancar, setelah diinvestigasi rupanya TBS dipasok dari luar kebun PTPN V Sei Pagar. Sejumlah mobil pick-up kecil milik masyarakat bergantian memasok TBS ke PKS Sei Pagar. Kemudian sejumlah truk tanki CPOnya keluar membawa CPO olahan dsri PKS Sei Pagar ini.

Kebun plasma memprihatinkan

Dengan minimnya pasokan TBS sawit dari kebun inti dan plasma, namun banyak TBS masuk dari luar dan ini dipertanyakan dan disorot.

PKS PTPN V Sei Pagar ini kapasitas produksinya 30 ton/jam CPO memasok TBS sawit sekitar 600 ton per hari. Anehnya dengan terbatasnya pasokan TBS dari kebun inti dan plasma, namun rekanan kontraktor PTPN V bisa memasok TBS dari luar kebun inti dan plasma. Bahkan beberapa masyarakat yang mempunyai mobil pick up kecil nampak memasok TBS ke PKS PTPN V Sei Pagar tersebut.

Manajer Kebun Sei Pagar PTON V, Sori P Ritonga yang dikonfirmasi masalah ini membantah dengan mengatakan bahwa masih ada dan cukup pasokan TBS dari kebun plasmanya.

Namun hal ini dibantah oleh Ketua KUD Mekar Sejahtera Desa Hang Tuah Kecamatan Perhentian Raja Kampar Riau, Tamar.

Menurut Tamar, benar kebun plasma 18  kelompok tani di bawah naungan KUD Mekar Sejahtera tak produktif lagi tak ada buahnya lagi. Masing-masing kelompok tani tak mau lagi bermitra dengan PTPN V Sei Pagar karena selama ini tak ada pembinaan dari PTPN V.

Petani menjual TBS nya ke pihak swasta yang harganya lebih menguntungkan. Masalah replanting kebun plasma petanipun pihak petani dan KUD tak mau bermitra lagi dengan PTPN V karena selama ini mengecewakan tak ada pembinaan. Makanya ribuan hektare kebun sawit tua di Sei Pagar ini belum juga di replanting.

Sementara ada penilaian bahwa Ketua KUD Mekar Sejahtera Pak Tamar yang plin-plan tak komitmen melakukan peremajaan/replanting kebun sawit plasma petani dengan 18 poktan yang dibinanya. Sehingga dengan tak diremajakannya kebun sawit plasma yang sudah tua yang tak produktif lagi milik petani itu, maka petani plasma menjadi korban akibat plin plan dan tak komitmen Ketua KUD Mekar Sejahtera Tamar ini.

Ketua KUD Mekar Sejahtera Desa Hang Tuah Sei Pagar Kecamatan Perhentian Raja Kampar Riau, Tamar

Koperasi Karyawan (Kopkar) Nusa Lima PTPN V yang merupakan koperasi karyawan PTPN V di kebun Sei Pagar koperasinya ikut gulung tikar dampak dari tak produktifnya kebun inti dan plasma yang berujung sulitnya mendapat TBS sawit. 

Kopkar Nusa Lima PTPN V Sei Pagar ini mendapat kontrak memasok TBS ke PKS PTPN V Sei Pagar ini 200 ton per hari. Tapi kuota ini tak bisa dipenuhi karena sulitnya dan bersaing mendapat TBS sawit. Akhirnya Kopkar Nusa Lima milik karyawan PTPN V Sei Pagar ini gulung tikar. Sebanyak sekitar 11 unit truk Toyota Dyna yang dikredit di bank akhirnya disita pihak bank. Kini tinggallah cuma satu unit truk Toyota Dyna eks mengangkut TBS tersebut. Aktivitas di Kopkar Nusa Lima yang dulunya maju, kini sepi. Bahkan Ketua Kopkarnya kini sakit.

Sejumlah pemerhati memperkirakan dari 19 lokasi perkebunan sawit dan 12 PKS PTPN V Riau yang tak kunjung melakukan replanting puluhan ribu hektare kebun sawit plasma, maka tiga tahun ke depan dan seterusnya perekonomian Riau akan berdampak negatif dan kesejahteraan petani plasma eks mitra PTPN V ini akan sekarat.

Fatal demi fatal ditemukan di lapangan. Sejumlah petani plasma yqng sudah cerai dengan PTPN V dalam peremajaan mengambil langkah sendiri yaitu menanam bibit sawit di sela tanaman tua yang tak produksi lagi dan ini tidak sesuai dengan petunjuk teknis Dirjenbun RI. Bibit yang ditanam terlindung sinar matahari akibat ditutup pohon tua, akar pohon tua masih rebutan makan pupuk dengan bibit yang ditanam.

Menurut ketentuan teknis Dirjenbun RI, tanaman sawit yang tua harus ditumbang, dicincang (chipping) batangnya agar tak menjadi media hidup hama sawit kumbang tanduk.Sebelum pohon tua ditumbang dan dicincang setebal 15 cm, maka dilakukan Luku 1 untuk memutus akar pohon tua. Barulah dilakukan Luku 2 menggunakan alat bajak Zonder dan selanjutnya di Harrow/digemburkan juga menggunakan traktor Zonder.

Era teknologi sekarang, sistem buat lubang tanam bibit kelapa sawit bukan lagi dilakukan secara manual dicangkul oleh manusia, tapi kini dilakukan menggunakan alat mekanisasi pertanian yang kerjanya cepat.(azf)



[Ikuti Terus Detakindonesia.co.id Melalui Sosial Media]






Berita Lainnya...

Tulis Komentar