Potret Keberagaman di Industri Perkebunan PTPN, Kala Harmoni Etnis Warnai Tahun Baru Imlek
Bagi Akiong, toleransi bukan sekadar slogan, melainkan hadir dalam bentuk tindakan kecil yang konsisten. Ia menceritakan bagaimana rekan-rekannya menghormati kebiasaan keluarganya, begitu pula sebaliknya. Saat bulan puasa tiba, ia berusaha menjaga sikap agar tidak mengganggu ibadah rekan-rekannya. Sebaliknya, di hari raya, undangan silaturahmi kerap datang tanpa sekat perbedaan.
“Kami saling menjaga perasaan. Itu tumbuh dengan sendirinya, tanpa perlu diatur,” ucapnya.
Menariknya, pengalaman bekerja di kebun juga membawa dampak yang lebih personal. Aktivitas fisik yang intens, ritme kerja yang teratur, serta kebersamaan dalam tim membuat Akiong merasa lebih sehat dibandingkan sebelumnya.
“Sekarang saya jarang sakit. Saya merasa pekerjaan ini justru membuat tubuh saya lebih kuat,” tuturnya sambil tersenyum.
Cerita serupa juga datang dari karyawan keturunan Tionghoa lainnya yang kini memeluk agama Islam Tony Lie namanya, menjabat sebagai Asisten Tata Usaha di Kebun Kemitraan Tanah Putih, Rokan Hilir, Riau.
Ia menilai bahwa identitas etnis dan keyakinan bukanlah dua hal yang saling meniadakan. Di lingkungan kebun, keduanya justru berjalan berdampingan tanpa perlu dipertentangkan.
Tulis Komentar